
Selama bulan Ramadan, pola hidup kita berubah cukup drastis. Jam makan bergeser, nggak makan dan minum selama lebih dari 13 jam, dan tubuh kita dipaksa beradaptasi dengan ritme yang berbeda dari biasanya. Di balik makna spiritualnya, puasa juga berkaitan dengan manfaat kesehatan yang sering kita sebut sebagai detoks. Kalau ilmiahnya, detoks ini dikenal sebagai autofagi, yaitu proses tubuh membersihkan dan memperbaiki sel-sel dalam tubuh agar kualitas sel tetap terjaga.
Permasalahannya, apakah benar semua orang yang berpuasa bisa mengalami autofagi? Apa saja faktor yang memengaruhinya? Buat tahu jawaban lengkapnya, yuk kita bahas di artikel ini.
Apa yang Dimaksud Autofagi?
Buat yang belum tau, istilah autofagi ini berasal dari bahasa Yunani: auto (diri sendiri) dan phagy (memakan). Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Yoshinori Ohsumi yang berhasil meraih Nobel Prize pada tahun 2016 berkat penelitiannya tentang mekanisme autofagi. Sederhananya, autofagi adalah proses alami tubuh yang berfungsi untuk memecah, mendaur ulang, dan membersihkan komponen sel yang sudah rusak. Proses ini penting banget karena bisa menjaga sel tubuh kita tetap berfungsi secara optimal.
Kalau mau dibayangin, autofagi itu kayak sistem quality control dalam tubuh kita. Gampangnya gini, kalau di kantor kamu nggak ada evaluasi rutin. File lama akan dibiarin numpuk, inventaris kantor yang rusak nggak diganti-ganti, lama-lama performa kerja pun akan menurun. Nah, autofagi juga sama. Dia yang mengevaluasi sel-sel di dalam tubuh kita agar bisa bekerja secara optimal.
Apa yang Terjadi di Tubuh Kita Saat Puasa?
Autofagi memang bisa terjadi secara alami, tapi menariknya puasa ternyata bisa memicu dan mempercepat proses ini. Kok bisa? Iya, karena saat kita berpuasa, tubuh nggak mendapatkan asupan makan dan minum selama lebih dari 13 jam. Hal ini membuat sel tubuh jadi kelaparan dan mendorong mereka untuk melakukan autofagi. Biar lebih jelas, coba kita breakdown ya.
Beberapa jam setelah sahur, tubuh masih menggunakan glukosa sebagai energi utama. Insulin masih bekerja seperti biasa dan metabolisme pun berjalan normal. Tapi setelah lebih dari 12 jam, cadangan glukosa dalam tubuh kita mulai menurun. Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Stephen D. Anton dkk., saat cadangan glukosa habis, tubuh akan beralih dari pembakaran glukosa ke pembakaran lemak sebagai sumber energi. Di momen inilah proses pembersihan dan daur ulang sel (autofagi) mulai aktif, bantu tubuh memperbaiki diri dari dalam.
Nah, karena puasa memaksakan tubuh untuk memasuki fase ini secara konsisten selama 30 hari, peluang terjadinya autofagi pun jadi lebih besar.

Manfaat Autofagi Bagi Kesehatan
Ada banyak manfaat autofagi yang bisa kamu dapatkan melalui puasa, berikut beberapa diantaranya:
1. Bantu Mengurangi Peradangan
Tahu nggak, peradangan sering banget dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan. Kadang bukan karena infeksi, tapi karena di dalam tubuh kita ada sel-sel rusak yang numpuk. Kalau nggak segera dibersihkan, tubuh bisa berada di kondisi inflamasi (peradangan). Nah karena autofagi itu bantu membersihkan dan mendaur ulang sel-sel yang rusak, otomatis dia juga mengurangi sel inflamasi yang bisa menimbulkan peradangan. Jadi tubuh kita pun lebih nggak gampang sakit!
2. Meningkatkan Imunitas Tubuh
Dengan dibersihkannya sel-sel yang rusak, autofagi akan memicu terjadinya regenerasi sel baru yang lebih sehat. Sel-sel sehat inilah yang mampu melawan bakteri atau virus pembawa penyakit, sehingga imunitas tubuh pun meningkat. Selain itu, regenerasi sel ini juga dapat mencegah penuaan dini.
3. Mencegah Pertumbuhan Sel Kanker
Pertumbuhan sel kanker itu awalnya dari sel-sel rusak atau bermutasi. Dengan adanya autofagi, tubuh jadi bisa membuang sel-sel yang berpotensi untuk menjadi kanker. Itulah kenapa ada beberapa penelitian yang menyebutkan kalau proses autofagi bisa mengurangi risiko terjadinya kanker.
4. Mendukung Terjadinya Penurunan Berat Badan
Siapa di sini yang puasa sekaligus buat nurunin berat badan? Nah menariknya, autofagi ini bisa bantu tubuh kita untuk belajar menggunakan lemak sebagai sumber energi. Ketika tubuh terus-terusan tidak menerima asupan dari makan dan minum, ia pun akan lebih efektif membakar lemak.
Tapi perlu diingat, tidak semua orang dianjurkan menjalani puasa. Misalnya, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, atau orang dengan kondisi medis tertentu. Jangan lupa konsultasikan dengan dokter untuk penjelasan yang lebih konkrit.
Faktor yang Mendukung Proses Autofagi Saat Puasa
Sekarang pertanyaannya, apakah semua orang yang berpuasa bisa mengalami autofagi? Jawabannya, tidak semua orang berpuasa secara otomatis mengalami autofagi secara maksimal. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya, yaitu:
1. Durasi Puasa
Autofagi cenderung meningkat ketika tubuh dalam kondisi kekurangan energi dalam waktu yang lama, biasanya terjadi setelah 12 jam. Karena puasa Ramadan dilakukan secara konsisten setiap hari selama kurang lebih 30 hari, tubuh akan berulang kali memasuki fase adaptasi. Kondisi inilah yang akan meningkatkan peluang terjadinya autofagi.
2. Pola Makan Bergizi Seimbang
Siapa di sini yang waktu buka puasa, sering kalap makan? Ini nih masalah utamanya. Banyak orang pas buka makan gorengan sekali 3, belom lagi nasinya. Nah, konsumsi karbo dan lemak yang tinggi bisa bikin gula darah tubuh naik-turun drastis. Akibatnya, bisa bikin kita cepat lapar dan menghambat proses autofagi.
Makanya, makan bergizi seimbang itu penting banget saat puasa! Kamu bisa berbuka dengan air putih dan kurma terlebih dahulu. Pastikan piring protein dan serat dalam piring lebih banyak dibandingkan karbo untuk menjaga gula darah tetap stabil. Kalau mau yang praktis, kamu bisa minum Hotto Purto. Minuman multigrain berserat tinggi yang bagus untuk teman buka puasa.

3. Aktif Bergerak
Meskipun lagi puasa, kamu tetap butuh olahraga ringan. Nggak udah yang berat, mulai dari jalan kaki, sepedaan, atau stretching aja juga udah cukup. Soalnya hal ini penting untuk menjaga metabolisme tetap aktif, mencegah penurunan massa otot, dan memaksimalkan detoksifikasi dalam tubuh kita.
Kesimpulan
Puasa memberikan kita kesempatan untuk tubuh kita melakukan autofagi, asalkan dijalani dengan pola makan yang seimbang. Jadi kalau selama ini kita merasa tubuh terasa lebih ringan selama puasa, itu bukan sekadar sugesti aja. Tapi memang tubuh kita sedang memperbaiki dirinya sendiri untuk mendukung kesehatan jangka panjang.
