Kalau hidup di kota besar, jam makan sering kalah dari hal-hal yang terasa lebih mendesak.
Pagi sudah terburu-buru. Makan siang pindah ke depan laptop. Sore masih ada meeting. Malam baru sadar, sayur yang dimakan hari ini mungkin cuma potongan kecil di dalam nasi goreng.
Di tengah hidup yang serba cepat dan, ya, serba mahal makanan akhirnya sering dipilih berdasarkan dua syarat sederhana: “Yang penting cepat dan bikin kenyang.”
Sesekali makan seadanya tentu bukan masalah. Yang sering tidak terasa adalah ketika “cuma hari ini” perlahan berubah menjadi kebiasaan setiap hari.
Makanan kita jadi kurang beragam. Sarapan makin sering terlewat. Pilihan yang praktis selalu menang, sementara kebutuhan nutrisi baru dipikirkan belakangan.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat wajar: apakah makan lebih sehat memang harus selalu repot? Jawabannya, tidak selalu.
Salah satu pilihan yang sekarang makin mudah ditemukan dalam roti, sereal, pasta, sampai minuman adalah multigrain.
Namun, apa itu multigrain dan apakah semua produk multigrain otomatis lebih sehat?
Apa Itu Multigrain?
Secara sederhana, multigrain adalah produk yang menggunakan lebih dari satu jenis serealia atau grain. Misalnya, sebuah produk dapat menggabungkan oat, barley atau jali, jagung, sorgum, millet, beras merah, maupun jenis grain lainnya.
Beberapa produk multigrain juga menambahkan kacang-kacangan, biji-bijian, atau bahan pangan nabati lain. Namun, bahan-bahan tersebut merupakan tambahan pada formulasi, bukan yang menentukan definisi multigrain itu sendiri.
Baca Juga: Multigrain: Sumber Serat Terbaik untuk Pencernaan Optimal
Hal yang penting untuk diingat: Multigrain berbicara tentang banyaknya jenis grain, bukan otomatis menunjukkan bahwa sebuah produk lebih sehat.
Sebuah roti dapat disebut multigrain karena memakai beberapa jenis grain. Namun, dari nama itu saja kita belum tahu apakah grain-nya masih utuh, seberapa banyak yang digunakan, berapa kandungan seratnya, atau berapa banyak gula yang ditambahkan.
Label multigrain juga tidak otomatis berarti produk tersebut dibuat dari whole grain. Karena itu, bagian depan kemasan baru memberi kita kesan pertama. Jawaban sebenarnya biasanya ada di bagian belakang.

Apa Saja Kandungan Nutrisi dalam Multigrain?
Setiap grain punya karakter yang berbeda.
Secara umum, grain merupakan sumber karbohidrat. Tergantung jenis dan cara pengolahannya, grain juga dapat menyumbangkan serat, protein nabati, vitamin, dan mineral.
Ketika beberapa jenis grain digabungkan, bahan yang masuk ke dalam produk pun menjadi lebih beragam. Namun, bukan berarti produk dengan sepuluh jenis grain pasti lebih bernutrisi daripada produk dengan tiga jenis grain.
Jumlah jenis bahan hanyalah satu bagian dari cerita.
Yang lebih penting adalah grain apa yang paling banyak digunakan, apakah grain-nya masih utuh atau sudah banyak diolah, berapa serat dan protein dalam satu sajian, berapa banyak gula, natrium, dan lemak yang ditambahkan, serta seberapa besar ukuran sajiannya.
Pola makan sehat memang dianjurkan mencakup makanan yang beragam, termasuk whole grains, sayuran, buah, dan kacang-kacangan. Tetapi anjuran untuk memilih whole grain tidak berarti seluruh produk multigrain otomatis memiliki kualitas yang sama.
Jadi, daripada hanya menghitung jumlah grain yang dicetak besar-besar di kemasan, lihat juga apa yang benar-benar kita dapatkan dalam satu sajian.
Label Multigrain Belum Cukup untuk Menilai Sebuah Produk
Kemasan makanan memang dirancang agar menarik perhatian.
Warna cokelat, gambar biji-bijian, tulisan “multigrain”, atau ilustrasi ladang dapat membuat sebuah produk langsung terasa sehat. Padahal, penampilan depan kemasan belum tentu menggambarkan seluruh isinya.
Sebelum memilih, coba lihat tiga hal berikut.
1. Baca Bahan yang Paling Awal Ditulis
Daftar komposisi umumnya disusun mulai dari bahan yang digunakan paling banyak.
Jadi, bahan-bahan di urutan awal dapat memberi gambaran tentang apa yang sebenarnya mendominasi produk tersebut.
Kalau grain yang diunggulkan justru baru muncul jauh di belakang, jumlahnya mungkin tidak sebanyak yang kita bayangkan.
2. Periksa Serat per Sajian
Jangan menilai kandungan serat hanya dari warna produk atau banyaknya gambar biji-bijian. Lihat informasi nilai gizinya. Berapa gram serat yang benar-benar terkandung dalam satu sajian?
Ini lebih berguna daripada sekadar mengandalkan kata multigrain.
3. Perhatikan Gula, Natrium, dan Ukuran Sajian
Produk berbahan grain tetap dapat mengandung gula atau natrium tambahan.
Saat membandingkan dua produk, perhatikan juga ukuran sajiannya. Angka yang terlihat lebih kecil belum tentu lebih rendah jika ukuran sajiannya juga jauh lebih kecil.
Panduan pangan resmi juga menyarankan konsumen melihat label secara menyeluruh, termasuk kandungan gula, natrium, dan lemak jenuh bukan hanya klaim yang paling menonjol di bagian depan.

Multigrain dan Whole Grain, Apa Bedanya?
Nama keduanya memang mirip, tetapi mereka menjelaskan dua hal yang berbeda.
Cara paling mudah mengingatnya adalah multigrain berarti banyak jenis, sedangkan whole grain berarti bijinya tetap utuh.
Multigrain menjelaskan jumlah jenis grain yang digunakan. Sementara whole grain menjelaskan kondisi grain tersebut. Whole grain masih mempertahankan bagian-bagian utama bijinya, termasuk lapisan luar, lembaga, dan bagian dalamnya. Secara teknis, bagian tersebut disebut bran, germ, dan endosperm.

Jadi, sebuah produk bisa berupa multigrain tetapi bukan whole grain, whole grain tetapi hanya menggunakan satu jenis grain, atau multigrain sekaligus whole grain.
Keduanya bukan lawan. Kita hanya perlu memahami apa yang sebenarnya digunakan di dalam produk.
Cara Praktis Menikmati Multigrain
Multigrain tidak hanya hadir dalam satu bentuk. Kita dapat menemukannya dalam roti, crackers, sereal, pasta, bubur, grain bowl, sampai minuman multigrain.
Karena bentuknya beragam, multigrain relatif mudah dimasukkan ke dalam keseharian.
Untuk sarapan, misalnya, minuman atau sereal multigrain dapat dipadukan dengan buah, telur, yogurt, atau sumber protein lainnya. Untuk camilan, pilih bentuk dan porsi yang sesuai dengan aktivitas kita.
Namun, multigrain bukan pengganti seluruh pola makan. Tubuh tetap membutuhkan makanan yang bervariasi: sayur, buah, sumber protein, cairan, dan berbagai nutrisi lainnya.
Karena tujuan makan lebih sehat bukan menemukan satu makanan yang bisa melakukan semuanya. Tujuannya adalah menemukan pilihan yang lebih baik dan cukup praktis untuk benar-benar dijalankan.
Hotto, Pilihan Multigrain Praktis di Tengah Kesibukan
Ada pagi ketika alarm terlambat berbunyi.
Ada siang ketika meeting datang tanpa jeda.
Ada juga hari ketika menyiapkan makanan terasa seperti satu tugas tambahan di tengah daftar pekerjaan yang sudah panjang.
Pada hari-hari seperti itu, pilihan yang praktis bisa membantu.
Hotto Purto dibuat dengan 15 premium multigrain, oat beta-glucan, dan prebiotik inulin. Sesuai informasi nilai gizi pada kemasan, satu sajian Hotto Purto mengandung 6 gram serat pangan atau 22% AKG (Angka Kecukupan Gizi).
Hotto dapat dinikmati sebagai bagian dari sarapan, sebagai camilan, atau di sela aktivitas. Supaya lebih lengkap, padukan dengan buah, telur, atau makanan lain sesuai kebutuhanmu.
Tentu, satu cangkir Hotto bukan pengganti seluruh makanan yang dibutuhkan tubuh. Namun, di tengah hari yang sibuk, ia dapat menjadi satu pilihan praktis agar kebutuhan makan tidak selalu berakhir dengan “nanti saja.”

Multigrain Bukan Kata Ajaib
Multigrain dapat menjadi cara praktis untuk menambah variasi bahan pangan dalam keseharian. Namun, jangan memilih sebuah produk hanya karena jumlah grain-nya banyak atau kemasannya terlihat sehat.
Baca komposisinya. Lihat informasi nilai gizinya. Perhatikan serat, gula, dan ukuran sajian. Kemudian pikirkan bagaimana produk tersebut akan melengkapi pola makanmu.
Karena makanan sehat bukan tentang menemukan satu produk yang sempurna.
Makanan sehat adalah tentang membuat pilihan yang lebih baik, lebih sering.
Dan bagi kita yang hidupnya sibuk, pilihan itu tidak harus rumit. Kadang, ia bisa dimulai dari secangkir yang mudah disiapkan, di antara alarm pagi dan meeting pertama hari itu.
Karena kamu harus sehat.
Gut Bless You.

Indra Cahya adalah Content Writer di Hotto, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun sebagai editor dan penulis konten digital. Ia telah menghasilkan berbagai konten seputar gaya hidup dan kesehatan yang dipublikasikan di media online seperti Merdeka.com dan Liputan6.com.


