
Testimoni – Sophia Latjuba
Problem: Pola Hidup
Siapa yang tidak kenal Sophia Latjuba? Di usianya yang menginjak kepala 5, ia kerap dianggap sebagai definisi “ageless” atau awet muda oleh banyak orang. Namun, di balik penampilan fisiknya yang bugar dan memukau, ada perjalanan panjang mengenai kesehatan yang jarang ia ungkap ke publik.
Selama puluhan tahun, Sophia hidup dalam ritme kerja yang sangat cepat, sering mengabaikan sinyal tubuh, hingga membiarkan perutnya kosong berjam-jam setiap pagi. Apa yang terlihat sempurna di luar, ternyata menyimpan cerita tentang perjuangan melawan stres, masalah pencernaan, dan pencarian keseimbangan “Body, Mind, and Soul”. Ini adalah titik balik Sophia Latjuba dalam mendefinisikan ulang arti sehat yang sesungguhnya.
Bukan Sekadar Awet Muda, Tapi Soal Tubuh yang Sehat
Hai, aku Sophia Latjuba. Sering banget orang tanya, “Apa sih rahasianya awet muda?” Jujur, kadang aku bingung jawabnya. Orang bilang itu gifted atau genetik, dan ya, mungkin turunan memang mempengaruhi. Tapi buat aku, goal-nya bukan sekadar terlihat muda.
Baca Juga: 10 Kesalahan Pola Makan yang Bikin Kamu Gampang Capek
Kita hidup di masyarakat yang standarnya sudah agak “ngaco”, di mana semua orang ingin kurus dan ingin awet muda. Padahal, pesan yang ingin aku sampaikan bukan “Aku 53 tahun tapi terlihat seperti ini”, melainkan kesehatan itu jauh lebih penting. Kalau kita menjalani hidup dengan sehat, menjaga body, mind, and soul, awet muda itu sebenarnya cuma bonus.
Puluhan Tahun Hidup dalam “Hustle Mode” dan Melewatkan Sarapan
Mungkin banyak yang nggak nyangka, aku sudah kerja sejak umur 16 tahun. Tumbuh di era 80-an dan 90-an, kesadaran akan kesehatan belum setinggi sekarang. Saat itu, aku hidup dengan gaya “hustle lifestyle”. Sibuk banget, kerja terus-terusan, dan parahnya, aku punya kebiasaan buruk yang bertahan selama 20 sampai 30 tahun: aku nggak pernah sarapan.
Setiap pagi, bangun tidur langsung ngopi pakai susu dan gula, lalu lanjut yoga atau aktivitas lain dengan perut kosong. Kalaupun lapar, aku tahan sampai makan siang sekalian diet. Aku pikir, “Ah, aku bisa bertahan hidup tanpa nasi selama 20 tahun, aku kuat kok.”. Tapi ternyata, menumpuk stres dan kebiasaan buruk selama puluhan tahun itu ada harganya. The body pays the price.
Saat Tubuh Mulai Memberi Sinyal “It’s Time to Change”
Lama-kelamaan, tubuhku mulai protes. Lambungku yang memang sensitif dari dulu mulai bermasalah. Rasanya nggak nyaman, banyak ngerasa gassy, dan sering merasa brain fog. Dokter keluargaku bahkan sudah bertahun-tahun mengingatkan, “Sof, jangan lupa sarapan. Isi lah perut dikit-dikit,” tapi aku nggak pernah dengerin karena merasa baik-baik saja. Sampai akhirnya beberapa bulan lalu, aku sadar ada yang harus diubah. Aku nggak bisa lagi hidup seperti “zombie” yang cuma kerja tanpa mempedulikan tubuh. Aku mulai belajar bahwa organ tubuh kita punya jam kerjanya masing-masing. Lambung itu bekerja optimal jam 7 sampai jam 9 pagi. Itu waktu terbaik untuk mengisinya, bukan membiarkannya kosong.
Menemukan Keseimbangan Baru Lewat “Mindful Morning”
Perubahan itu aku mulai dari pagi hari. Sekarang, begitu bangun tidur, aku nggak langsung pegang HP atau buru-buru sikat gigi. Aku duduk diam sebentar, putar musik yoga, dan mencoba meditasi 5 menit. Aku berusaha untuk benar-benar present, merasakan tubuhku, baru kemudian sarapan. Tapi ada satu masalah: aku orangnya males masak. Aku bisa masak, tapi aku nggak suka ribet di dapur. Otakku kerjanya cepat, jadi aku butuh solusi yang cepat juga. Aku butuh sesuatu yang praktis untuk sarapan, tapi tetap aman buat lambungku yang sensitif.

Awal Ketemu Hotto dan Impresi Sophia
Di tengah pencarian itu, semesta sepertinya mendukung. Aku menemukan Hotto. Awalnya tertarik karena kemasannya yang eye-catching warna ungu lavender, tapi begitu dicoba, it had a really nice effect on my body. Rasanya enak, subtle sweet, nggak terlalu manis, dan teksturnya agak kental jadi masih bisa dikunyah. Yang paling penting, Hotto itu gentle banget di perut. Sangat mengenyangkan tapi nggak bikin begah.
Sejak rutin minum Hotto setiap pagi perubahannya terasa banget. Perutku jadi nggak terlalu gassy, sendawa berkurang, dan rasanya lebih nyaman. Buat aku, ini solusi sempurna karena cuma butuh beberapa detik buat nyiapinnya. Tinggal tuang, kasih air panas, aduk, and cheers.
Pesan Sophia Latjuba
Bergabung menjadi Brand Ambassador Hotto buat aku bukan sekadar kerja sama bisnis. Kami punya visi yang sama: A better you, a better future. Aku percaya kalau kita memperbaiki apa yang kita makan, menjaga keseimbangan lambung sebagai “otak kedua” kita, energi kita akan berubah, dan kesehatan kita akan membaik. Kalau di dalamnya sehat, otomatis akan memancar ke luar, ke kulit, dan ke aura kita. Jadi, mulailah dengarkan tubuhmu. Jangan tunggu sampai sakit. Ubah kebiasaan kecil mulai dari sarapan, stay present, dan biarkan tubuhmu berterima kasih padamu.


