Muka merah membengkak tanpa sebab? Jangan sepelekan, bisa jadi pertanda dari sindrom cushing. Kebanyakan orang mungkin belum pernah dengar soal sindrom ini, karena jarang sekali dibahas.
Sindrom cushing adalah sindrom yang disebabkan akibat penumpukan hormon kortisol dalam tubuh. Kalau kamu baru mendengar soal sindrom, pastikan ketahui gejala dan cara pengobatannya!
Pengertian Sindrom Cushing
Melansir artikel Kementerian Kesehatan, sindrom cushing adalah sindrom yang disebabkan karena kadar kortisol berlebih dalam tubuh. Sebetulnya kortisol bukan hormon jahat. Kelenjar adrenal akan memproduksi kortisol ketika tubuh merasa stres atau terancam.
Hormon ini akan meningkatkan kadar gula darah, yaitu senyawa yang diserap sel-sel tubuh sebagai sumber energi. Dengan memiliki energi yang cukup, seseorang bisa lebih siap menghadapi situasi yang mengancam baginya.
Namun, ada kalanya tubuh memproduksi kortisol secara berlebihan, yang dapat menyebabkan sindrom Cushing. Kondisi ini bisa terjadi secara alami atau dipicu oleh penggunaan obat kortikosteroid dalam dosis tinggi. Penggunaan obat ini dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek yang menyerupai hormon kortisol dalam tubuh.
Tetapi penyebab sindrom cushing juga bisa karena gangguan kelenjar adrenal akibat tumbuhnya tumor pada kelenjar tersebut, sehingga mempengaruhi fungsinya dalam memproduksi kortisol.
Gejala Sindrom Cushing
Akibat dari tingginya kortisol memicu beberapa perubahan pada tubuh. Jika kamu mengalami beberapa dari gejala tersebut, lebih baik segera datangi spesialis penyakit hormon atau ahli endokrinologi. Adapun gejala yang patut diwaspadai yaitu:
Wajah Merah Membengkak (Moon Face)
Kondisi ini disebabkan karena penumpukan lemak pada area wajah, membuatnya terlihat bengkak dan bulat. Moon face merupakan gejala awal dari sindrom cushing. Penumpukan lemak terjadi karena gangguan metabolisme lemak akibat tingginya kortisol.
Berdasarkan jurnal dari Oxford Academic, kortisol merangsang tubuh untuk meningkatkan enzim LPL atau lipoprotein lipase, yaitu enzim yang bekerja memecah lemak untuk disimpan dalam tubuh. Akibat tingginya enzim LPL, tubuh tidak melakukan pembakaran, justru menyimpannya sebagai cadangan.
Kadar enzim ini lebih tinggi pada bagian wajah, leher, dan perut dibandingkan pada kaki. Sebagai akibatnya, wajah lebih berpotensi bengkak karena tingginya enzim LPL pada area tersebut.
Penumpukan Lemak di Bahu
Gejala ini juga berkaitan dengan tingginya enzim LPL yang mengganggu metabolisme lemak dalam tubuh. Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan Endocrine Reviews, hampir 70-80% penderita sindrom cushing mengalami penumpukan lemak pada area bahu.
Sebutan untuk kondisi ini yaitu buffalo hump. Ketika seseorang menderita sindrom cushing, enzim LPL akan menyimpan lemak pada area leher. Sebagai akibatnya tubuh terkesan seperti mempunyai punuk pada sekitar bahu.
‘Stretch Marks’ Ungu pada Area Perut
Munculnya stretch marks atau striae pada area perut juga salah satu gejala sindrom cushing. Berdasarkan studi yang berjudul Patient education: Cushing syndrome (Beyond the Basics), munculnya striae disebabkan akibat penipisan kulit.
Penipisan kulit terjadi karena kortisol berlebih. Kortisol menyebabkan terhambatnya produksi kolagen, yaitu protein alami yang memperkuat jaringan kulit agar tidak kendur. Sebaliknya, jika kulit kekurangan kolagen maka kulit cenderung mudah mengendur.
Ditambah lagi perut juga termasuk area yang tinggi aktivitas enzim LPL. Maka penderita sindrom cushing sangat mungkin mengalami penumpukan lemak di area perut.
Penumpukan lemak membuat kulit perut meregang sehingga terkesan tipis dan membuat pembuluh darah di bawah kulit yang keunguan lebih menonjol.
Berat Badan Meningkat Drastis
Dalam jurnal Screening for Cushing’s Syndrome in an Era of Epidemic Obesity dibahas bahwa sindrom cushing menyebabkan peningkatan nafsu makan. Hal ini karena kortisol memengaruhi hipotalamus, yaitu bagian otak yang mengendalikan nafsu makan.
Akibatnya hipotalamus meningkatkan pengiriman sinyal untuk makan. Dengan begitu penderita sindrom ini akan merasa lebih cepat lapar dan cenderung ingin mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula.
Di sisi lain, kelebihan kortisol menyebabkan gangguan metabolisme lemak, sehingga lemak yang masuk ke tubuh berisiko menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan kenaikan berat badan drastis.
Akan tetapi penderita sindrom hanya mengalami penggemukan pada bagian perut, leher, wajah, dan bahu. Sedangkan kaki dan tangannya tetap kurus.
Penyembuhan Luka Lebih Lama
Gejala sindrom cushing juga berkaitan dengan kemampuannya dalam menyembuhkan luka. Hal ini diungkap dalam studi yang dipublikasikan Frontiers, bahwa kortisol turut merangsang produksi radikal bebas oksigen (ROS).
ROS adalah senyawa yang dapat merusak sel-sel tubuh, termasuk fibroblas atau sel yang fungsinya membentuk jaringan ikat baru untuk menyembuhkan luka.
Biasanya, tubuh mengandalkan antioksidan untuk melawan ROS, namun kadar ROS pada penderita sindrom cushing jumlahnya berlebihan sehingga sulit untuk dikendalikan dengan baik.
Akibat terhambatnya pembentukan jaringan ikat baru, proses penyembuhan luka menjadi lebih lama dari biasanya.
Pengobatan Sindrom Cushing
Dokter mungkin akan memberikan pengobatan berdasarkan penyebabnya, apakah karena konsumsi kortikosteroid atau kemunculan tumor pada kelenjar adrenalin. Beberapa pengobatan untuk sindrom ini yaitu:
Mengurangi Konsumsi Obat Kortikosteroid
Melansir Kementerian Kesehatan, obat kortikosteroid adalah obat anti radang dan pereda reaksi alergi. Biasanya obat ini diberikan untuk mengobati penyakit paru, asma, hingga radang tenggorokan.
Namun kortikosteroid dapat meniru prednison, yaitu obat penyakit autoimun dengan efek yang mirip kortisol. Jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, efek tersebut akan semakin kuat dan meningkatkan gejala sindrom cushing.
Apabila kamu sedang menjalani pengobatan kortikosteroid, dokter mungkin menyarankan untuk mengurangi dosisnya.
Konsumsi Obat Pengontrol Kortisol
Dokter mungkin merekomendasikan obat pengontrol kortisol, seperti ketokonazol untuk mengurangi gejala sindrom cushing. Ketokonazol adalah obat antijamur yang tersedia dalam bentuk topikal dan oral.
Berdasarkan artikel dari HelloSehat.com, ketokonazol dalam bentuk oral berfungsi mengurangi gejala sindrom cushing. Hal ini karena ketokonazol memiliki efek anti-glukokortikoid, yaitu efek yang bekerja melawan glukokortikoid seperti kortisol. Dengan begitu kortisol lebih terkontrol jumlahnya.
Pembedahan Tumor
Tumor yang tumbuh pada kelenjar adrenal adalah penyebab lain dari sindrom cushing. Apabila ini yang kamu alami, dokter kemungkinan akan menyarankan pembedahan untuk mengangkat tumor tersebut.
Namun setelah pengangkatan tumor, kelenjar adrenal tidak bisa berfungsi seperti normal. Penderitanya harus mengonsumsi obat pengganti kortisol seperti prednison agar keseimbangannya tetap terjaga.
Kapan Harus ke Dokter?
Apabila kamu mengalami gejala-gejala sindrom cushing atau punya riwayat konsumsi obat kortikosteroid, segeralah datangi ahli endokrinologi atau spesialis penyakit terkait hormon. Dokter mungkin melakukan diagnosis seperti tes urin untuk mengetahui kadar kortisol, atau CT scan jika dugaannya karena tumor pada kelenjar adrenal.
Diagnosis akan mencari tau penyebab dari sindrom cushing, sehingga dokter bisa memberikan penanganan yang tepat untuk menyembuhkannya. Semakin cepat mendapat penanganan, maka semakin besar pula peluang untuk sembuh.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa penyebab hormon kortisol meningkat?
Melansir HelloSehat.com, tubuh akan melepaskan hormon kortisol ketika tubuh menghadapi ancaman atau merasa stres. Nantinya hormon ini akan berkurang dengan sendirinya ketika pemicu stres hilang. Namun kalau jumlah hormon ini tetap tinggi selama waktu yang lama, bisa jadi itu salah satu gejala sindrom cushing.
Apa yang terjadi jika kita kelebihan hormon kortisol?
Dalam Alodokter.com, kortisol berlebih akan memengaruhi metabolisme lemak. Alih-alih tubuh membakar lemak dari makanan, kortisol justru membuat tubuh menyimpan lemak tersebut sebagai cadangan energi ketika tubuh menghadapi stres lagi. Dalam jangka panjang, kelebihan kortisol bisa berkontribusi menyebabkan kenaikan berat badan.
Bagaimana cara menurunkan hormon kortisol?
Honestdocs.id merangkum cara menurunkan kortisol, misalnya mendengarkan musik dan berolahraga. Berdasarkan penelitian di Jepang, mendengarkan musik favorit membantu menurunkan kortisol hingga 66%. Sedangkan olahraga selama 20 menit membantu merangsang pelepasan endorfin yaitu hormon yang mampu meningkatkan suasana hati.
Apakah sindrom Cushing bisa normal kembali?
Menurut artikel yang ditinjau dr. Fadhli Rizal Makarim, apabila sindrom cushing mengganggu fungsi kelenjar adrenal, kemungkinan besar kelenjar ini tidak berfungsi dengan normal kembali, sehingga bisa menyebabkan ketidakseimbangan kortisol dalam tubuh. Penderitanya mungkin perlu menjalankan pengobatan untuk memenuhi kebutuhan kortisol.