Tubuh rasanya seperti susah diajak kerja sama? Misalnya tidur sudah 8 jam tetapi masih lelah, sendi terasa nyeri tiba-tiba, atau kulit jadi ruam tanpa sebab. Gejala-gejala tersebut datang tiba-tiba dan mengganggu rutinitas sehari-hari.
Jika kamu mengalami hal serupa, waspadai gejala-gejala tersebut sebagai tanda awal penyakit autoimun. Apa itu penyakit autoimun? Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengobatinya? Semuanya sudah dibahas di bawah ini!
Sekilas tentang Penyakit Autoimun
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh dari penyakit, justru menyerang sel dan jaringan tubuh yang sehat.
Hal ini karena sel imun tubuh tidak dapat membedakan mana yang berasal tubuh dan dari luar tubuh (virus dan patogen). Akibatnya sistem imun menyerang jaringan dan sel yang sehat.
Belum ada penelitian yang menemukan penyebab pasti dari penyakit ini. Melansir Kementerian Kesehatan, seseorang berisiko menderita penyakit autoimun karena faktor keturunan.
Untuk itu, penting untuk mengenali gejala dan memahami faktor risiko ini agar mendapat pengobatan yang tepat.
Jenis-jenis Penyakit Autoimun dan Penyebabnya
Penyakit autoimun sebetulnya terbagi menjadi beberapa jenis. Kenali apa saja jenis, penyebab dan gejala penyakit autoimun, di antaranya:
Lupus
Lupus adalah penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan dan kerusakan di berbagai bagian tubuh, seperti kulit, sendi, ginjal, jantung, paru-paru, dan otak.
Kerusakan organ tersebut dipicu karena sistem imun penderita lupus menghasilkan autoantibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri, sehingga menyebabkan peradangan kronis. Penyakit ini ditandai dengan gejala seperti:
- Nyeri sendi pada lutut dan pergelangan tangan
- Kelelahan kronis
- Ruam berbentuk kupu-kupu pada area hidung dan pipi
- Demam tanpa sebab
- Rambut rontok atau menipis
Gejala-gejala tersebut terjadi secara kambuhan, kadang memburuk dan kadang mereda. Namun jika tidak segera dikelola dengan pengobatan yang tepat, gejala-gejala ini akan memicu kerusakan jaringan pada organ yang disebutkan tadi.
Penyebab autoimun ini belum diketahui pasti. Melansir Reumatologi, faktor genetik adalah faktor yang paling berperan meningkatkan risiko seseorang terkena lupus. Selain itu, faktor hormon juga berpengaruh. Lupus lebih sering menimpa wanita akibat pengaruh hormon estrogen yang diduga meningkatkan risiko akan penyakit ini.
Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid arthritis (RA) adalah jenis penyakit autoimun kronis yang menyebabkan peradangan pada sendi. Akibatnya sendi terasa nyeri dan kaku. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh secara keliru menyerang jaringan sinovium, yaitu lapisan tipis yang melapisi sendi.
Peradangan kronis akibat RA bisa berujung merusak sendi tersebut dan menyebabkan hilangnya fungsi sendi. Sama seperti penyakit autoimun lain, penyebab RA masih belum diketahui.
Melansir Alodokter, beberapa gejala yang identik dengan penyakit ini meliputi:
- Nyeri sendi pada jari tangan atau kaki
- Sendi terasa kaku setiap bangun tidur
- Kurang tidur karena terganggu rasa nyeri sendi
- Demam ringan sebagai reaksi tubuh dari sendi yang meradang
Psoriasis
Psoriasis adalah penyakit kulit yang disebabkan dari reaksi autoimun. Dalam kasus ini sistem imunitas tubuh mempercepat pertumbuhan sel kulit, sehingga menyebabkan penebalan kulit. Psoriasis diikuti dengan kulit bersisik akibat lapisan kulit terluar kering dan mengelupas dengan sendirinya.
Melansir Kementerian Kesehatan, akibat dari gangguan pertumbuhan sel kulit menyebabkan beberapa gejala, seperti:
- Kulit kering dan pecah-pecah
- Kulit bercak merah (berdarah) akibat kulit kering
- Rasa gatal pada area yang terdampak
- Kuku menebal
- Sendi kaku (tidak semua mengalami gejala ini)
Penyakit Celiac
Penyakit celiac juga termasuk penyakit autoimun, namun memengaruhi fungsi usus halus dalam menyerap nutrisi. Pada penderita penyakit celiac, sistem imun tubuh bereaksi ketika tubuh mengonsumsi gluten. Reaksinya tubuh akan merusak vili, yaitu bagian seperti rambut yang terdapat pada dinding usus halus.
VIli berfungsi menyerap nutrisi dari makanan. Namun vili yang rusak akan mengganggu proses pencernaan dan penyerapan nutrisi, akibatnya berpotensi menyebabkan malnutrisi dan kekurangan berat badan drastis pada penderitanya.
Baca Juga: Mengenal Penyakit Celiac: Dari Gejala hingga Pengobatan
Melansir Alodokter, penyakit celiac bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Pada anak-anak gejala penyakit celiac berupa diare, perut kembung, dan terhambatnya pertumbuhan anak (stunting).
Namun orang dewasa yang menderita penyakit ini bisa mengalami gejala seperti penurunan berat badan, nyeri perut, anemia (kekurangan zat besi), osteoporosis (kekurangan kalsium), dan penyakit lainnya akibat defisiensi nutrisi.
Multiple Sclerosis
Melansir Halodoc, multiple sclerosis adalah penyakit autoimun yang menyerang mielin, yaitu lapisan pelindung yang melapisi sistem saraf pusat pada otak. Akibatnya ini memicu peradangan dan mengakibatkan terganggunya komunikasi antara otak dan tubuh.
Penyakit ini bisa menyebabkan masalah yang berkaitan dengan saraf, misalnya gangguan penglihatan akibat kerusakan saraf optik yang menghubungkan otak ke mata. Penderitanya mungkin mengalami penglihatan yang kabur.
MS juga bisa menyebabkan masalah keseimbangan seperti kesulitan berjalan. Hal ini karena kerusakan mielin pada bagian otak kecil (cerebellum), sehingga otak kesulitan mengirim sinyal untuk mengatur keseimbangan. Akibatnya penderitanya mungkin kesulitan berjalan atau mudah kehilangan keseimbangan.
Pengobatan Penyakit Autoimun
Pengobatan penyakit autoimun bertujuan untuk mengelola gejala dan nyeri yang ditimbulkan dari penyakit tersebut. Namun pengobatan ini tidak bisa menyembuhkan penyakit autoimun secara sempurna.
Biasanya dokter merekomendasikan obat Imunosupresan untuk menekan sistem imun agar tidak menyerang jaringan tubuh yang sehat. Obat kortikosteroid juga mungkin diberikan untuk meredakan peradangan pada bagian tubuh yang terdampak.
Namun untuk penyakit rheumatoid arthritis, penderitanya akan disarankan untuk menjalani fisioterapi. Tujuannya agar sendi dan fungsi tubuh tidak kaku dan dibiasakan dipakai bergerak guna meningkatkan fleksibilitasnya.
Kesimpulan
Penyakit autoimun memang kondisi yang tidak diinginkan siapa saja. Selain menurunkan kualitas hidup, penyakit ini juga sulit untuk diobati. Berhubung tidak ada yang tahu penyebab pasti dari penyakit autoimun, disarankan untuk melakukan cek kesehatan rutin.
Ini memungkinkan deteksi dini sehingga penyakit autoimun tidak sempat merusak sel dan jaringan tubuh. Dengan cek kesehatan rutin, kamu akan berterima kasih dengan tubuhmu karena penyakit autoimun bisa dikendalikan sebelum parah!
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah penyakit autoimun bisa disembuhkan?
Tidak. Penyakit autoimun belum dapat disembuhkan total, tetapi bisa dikelola dengan pengobatan yang tepat untuk mengendalikan gejalanya agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya.
Apa saja jenis penyakit autoimun yang umum?
Jenis penyakit autoimun yang umum di antaranya lupus, rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, psoriasis, dan diabetes tipe 1
Bagaimana cara mendiagnosis penyakit autoimun?
Dokter akan mendiagnosis penyakit autoimun dengan cara tes darah. Tes ini bertujuan untuk mendeteksi kehadiran antibodi tertentu dalam darah. Jika ada, maka akan dilanjut dengan tes pencitraan untuk mengetahui kerusakan pada organ tubuh. Setelah ini dokter baru bisa menentukan jenis penyakit autoimun yang diderita.
