
Perut perih sedikit, bilangnya sakit maag. Telat makan, bilangnya kena maag. Siapa nih yang pernah kayak begini? Masalahnya, “maag” itu bukan diagnosis medis. Maag adalah istilah awam yang sering kita ucapkan saat ada gejala masalah pencernaan. Menurut Journal of Gastroenterology, keluhan yang sering kita sebut maag bisa masuk ke 3 (tiga) kondisi berbeda: dispepsia, GERD, dan gastritis.
Ketiganya sering tertukar karena gejalanya tumpang tindih, padahal cara mengatasinya berbeda. Inilah kenapa banyak orang sudah minum obat lambung, tapi keluhannya nggak benar-benar hilang. Nah, di artikel akan kita bahas satu per satu perbedaan ketiganya supaya kamu nggak salah persepsi lagi!
Perbedaan Dispepsia, GERD, dan Gastritis
Berikut beberapa perbedaan mendasar diantara ketiganya, mulai dari pengertian, penyebab, dan gejalanya:
1. Dispepsia
Secara medis, dispepsia adalah gejala gangguan pencernaan yang muncul di saluran cerna bagian atas perut, terutama di area ulu hati. Jadi, bukan satu penyakit spesifik. Penyebabnya bisa beragam mulai dari pola makan, kondisi psikologis, sampai efek samping obat. Berikut beberapa diantaranya:
- Makan terlalu cepat
- Konsumsi makanan pedas dan berlemak
- Stres dan rasa cemas
- Efek samping obat-obatan tertentu (NSAID, antibiotik)
Sedangkan, gejala yang ditimbulkan, sebagai berikut:
- Nyeri atau tidak nyaman di ulu hati
- Perut kembung, mudah terasa penuh
- Cepat kenyang meski makan sedikit
- Mual dan kadang disertai muntah
- Sering sendawa
Jika kamu merasakan gejala di atas, segera konsultasikan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan. Yang membedakan dispepsia dengan gangguan pencernaan lain adalah, dispepsia seringkali tidak ada kelainan fisik, meski gejalanya nyata. Hasil endoskopi pun terkadang tidak ditemukan kerusakan. Jadi bisa dibilang, dispepsia itu lebih ke kondisi “lambung sensitif”, bukan karena adanya luka atau radang.
2. GERD
Kalau dispepsia fokus ke rasa tidak nyaman, GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) fokus pada keluhan asam lambung yang naik ke kerongkongan secara terus menerus. Kenapa bisa naik? Karena otot di bagian bawah kerongkongan (LES) tidak bekerja dengan baik, sehingga asam lambung bisa naik dengan mudah.
LES ini adalah katup yang berfungsi sebagai pintu, terbuka untuk membiarkan makanan masuk ke lambung. Lalu, tertutup untuk mencegah isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Pemicu LES melemah pun ada banyak, berikut beberapa diantaranya:
- Konsumsi makanan pedas, berlemak, berkafein, dan beralkohol
- Merokok
- Stres dan cemas
- Makan berlebihan dan larut malam
- Langsung berbaring setelah makan
- Bertambahnya usia
- Kondisi medis lain, seperti hernia hiatus, kehamilan, dan efek samping obat-obatan
Gejala GERD yang biasa dirasakan, yaitu:
- Sensasi panas terbakar di dada (heartburn)
- Rasa asam atau pahit di mulut
- Suara serak dan batuk tidak kunjung sembuh
- Perut perih
- Isi lambung naik (regurgitasi)
Jadi, kalau keluhan utama kamu asam lambung naik, itu lebih mengarah ke GERD. Keluhan ini bisa terus bertambah jika tidak diatasi secara tepat. Di Indonesia sendiri, prevalensi GERD naik dari 61,8% menjadi 67,9%. Makanya, kalau kamu merasakan gejala di atas, segera periksa ke dokter karena diagnosa sejak dini sangat penting untuk mencegah adanya komplikasi.
3. Gastritis
Berbeda dari dispepsia dan GERD, gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung. Kondisi ini harus dibuktikan langsung lewat pemeriksaan medis, seperti gastroskopi atau biopsi. Tidak bisa hanya didasari oleh gejala saja. Gastritis dapat bersifat akut dan kronis, bedanya:
- Akut: muncul tiba-tiba, karena iritasi
- Kronis: berlangsung lama, karena faktor tertentu (obat-obatan atau infeksi H. pylori)
Gejala yang ditimbulkan, sebagai berikut:
- Nyeri di ulu hati
- Mual dan muntah
- Perut kembung dan begah
- Cepat kenyang
- Sering betsendawa
- Jika parah, muntah darah atau BAB hitam
Jadi kalau disimpulkan, dispepsia adalah perasaan tidak nyaman di lambung. GERD ketika asam lambung naik ke kerongkongan, sedangkan gastiritis adalah peradangan di lambung.
Kenapa Gejalanya Mirip?
Menurut Journal of Gastroenterology, kesulitan identifikasi disebabkan karena adanya overlap antara dispepsia dan gangguan pencernaan lain yang bisa mencapai 40%. Artinya, dispepsia bisa muncul bersamaan dengan GERD. Gastritis bisa memicu gejala dispepsia, dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena sistem pencernaan kita itu bekerja sama secara sinergis. Organ lambung, kerongkongan, otot, saraf semuanya saling terkait. Bahkan, dokter pun kadang perlu pemeriksaan tambahan untuk benar-benar memastikan diagnosisya.
Inilah alasan kenapa satu jenis obat belum tentu cocok buat semua orang. Kamu harus benar-benar periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosa secara tepat. Jangan self diagnose dan minum obat tanpa pengawasan dokter, untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Tabel Perbedaan dan Cara Mengatasinya
Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai perbedaan dispepsia, GERD, dan gastritis, perhatikan tabel di bawah ini:
| Aspek | Dispepsia | GERD | Gastritis |
| Pengertian | Keluhan tidak nyaman di area bagian atas perut | Kondisi asam lambung naik ke kerongkongan secara terus menerus | Ketika ada peradangan pada lapisan lambung |
| Ada peradangan? | Tidak selalu | Tidak selalu | Ya |
| Gejala | Nyeri di ulu hatiPerut kembungCepat kenyangMual/ muntahSering sendawa | HeartburnMulut asam atau pahitSuara serakBatuk kronisPerut perihRegurgitasi | Nyeri di ulu hatiMual dan muntahPerut kembung Cepat kenyangSering betsendawaJika parah, muntah darah atau BAB hitam |
| Penyebab Utama | Pola makan berantakanStres dan cemasEfek samping obat-obatan tertentu | Pola makan berantakanMerokokStres dan cemasSedang hamilKondisi medis lain, seperti hernia hiatus, dan efek samping obat-obatan | IritasiEfek samping obat-obatanInfeksi bakteri H. pylori) |
| Pemeriksaan Klinis | Anamnesis dan pemeriksaan fisik | Endoskopi, pH Metri | Endoskopi, biopsi |
| Cara Mengatasinya | Atur pola makanHindari makanan pemicu (pedas, berlemak, kafein)Kelola stresObat antasida | Atur pola makanHindari makanan pemicu (pedas, berlemak, kafein)Kelola stresObat antasida, H2 blocker atau PPI | Atur pola makanHindari makanan pemicu (pedas, berlemak, kafein)Kelola stresAntibiotik (jika infeksi H. pylori)PPI dan H2 blocker |
*Note: seseorang bisa memiliki dua atau tiga kondisi sekaligus dengan gejala yang sama

Jaga Kesehatan Pencernaan Kamu dengan Hotto Purto
Kesehatan pencernaan nggak cuma dijaga saat keluhan muncul, tapi lewat kebiasaan kita sehari-hari. Salah satunya dengan memastikan asupan serat tercukupi. Serat itu penting banget untuk bantu mengurangi rasa tidak nyaman di perut. Nah, Hotto Purto adalah minuman multigrain tinggi serat yang bisa bantu penuhi kebutuhan serat harian kamu. Terbuat dari 15 jenis multigrain dan ubi ungu, sehingga satu sachetnya memiliki 6 gram serat setara dengan 2 mangkok bayam. Jangan lupa kombinasikan dengan gaya hidup seimbang untuk menjaga kesehatan pencernaan.
Kesimpulan
Intinya, dispepsia, GERD, dan gastritis adalah tiga kondisi berbeda mekipun gejalanya mirip. Dispepsia lebih ke rasa tidak nyaman di lambung, GERD terjadi saat asam lambung naik ke kerongkongan karena LES melemah. Sementara gastritis adalah kondisi peradangan pada dinding lambung. Meskipun berbeda, ketiganya saling berkaitan dan tidak jarang ada orang yang memiliki dua atau tiga kondisi secara bersamaan. Yang penting, jangan ragu periksakan kek dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat dan aman sesuai kondisi tubuh kamu.


