
Banyak orang ngira kalau sakit perut itu cuma karena salah makan atau masuk angin. Tapi gimana kalau sakitnya nggak kunjung membaik, atau bahkan bikin bolak balik ke toilet berulang kali? Bisa jadi itu lebih dari sekadar masalah perut. Penyakit radang usus misalnya, atau dikenal sebagai IBD (Inflammatory Bowel Disease).
IBD bukan penyakit langka, ada jutaan orang di dunia ini yang mengalaminya. Masalahnya jumlah ini terus meningkat, termasuk di Indonesia. Tapi karena gejalanya mirip dengan gangguan pencernaan lain, banyak orang yang terlambat menyadarinya sampai benar-benar mengganggu kualitas hidup kamu. Bahkan, bisa berkembang menjadi kanker! Makanya, sebelum terlambat yuk kenali gejalanya di artikel ini.
IBD Bukan Hanya Satu Penyakit
Ada 2 (dua) jenis radang usus atau IBD, yaitu Crohn’s disease dan kolitis ulseratif. Kalau kolitis ulseratif merupakan peradangan kronis di dalam usus besar (kolon), sedangkan Crohn’s disease adalah peradangan di semua bagian sistem pencernaan.
Peradangan ini nggak langsung muncul begitu aja, biasanya berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun. Makanya, jenis apapun yang kamu hadapi pasti akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Radang usus dapat menyerang siapa saja, mulai dari remaja sampai lansia sekalipun. Biasanya untuk jenis Crohn’s disease lebih sering dialami usia 20-30 tahun, sedangkan kolitis ulseratif terjadi saat usia 15-40 tahun.
Penyebab Radang Usus (IBD)
IBD atau radang usus adalah penyakit autoimun, artinya sistem kekebalan tubuh kamu sendiri yang justru menyerang jaringan sehat di pencernaan. Lama kelamaan menyebabkan peradangan yang bisa berlangsung bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup.
Baca Juga: Tiba-Tiba Sakit Perut Melilit Tanpa Sebab? Ini Penjelasannya
Belum diketahui pasti, apa yang memicu terjadinya peradangan usus. Tapi, ada penelitian yang menunjukkan pengaruh lingkungan, genetik, kekebalan tubuh dan ketidakseimbangan mikrobiota di dalam pencernaan terhadap penyakit IBD.
Mungkin hal di bawah ini tidak langsung menyebabkan IBD, tapi bisa memicu terjadinya gangguan pencernaan kamu antara lain:
- Efek samping penggunaan obat antiinflamasi (NSAIDS)
- Kebiasaan merokok
- Stres berlebihan
- Minuman alkohol, kafein, soda
- Makanan berlemak, pedas, asam
- Memiliki riwayat keluarga penyakit IBD
Penelitian menunjukkan kalau 5 – 20% penderita IBD, pasti juga memiliki keluarga–orang tua, saudara, keponakan, anak yang juga memiliki IBD. Makanya, kalau memang memiliki riwayat penyakit ini, kenali gejala awalnya dan hindari hal-hal yang bisa men-trigger terjadinya radang dalam usus.

Gejala Radang Usus (IBD)
Gejala radang usus bisa berbeda-beda tergantung dari lokasi dan tingkat keparahan peradangan yang kamu alami. Umumnya, gejala yang timbul sebagai berikut:
- Badan mudah lelah
- Nyeri di perut bagian bawah
- Perut kembung dan begas
- Perut kram
- Diare yang tak kunjung sembuh
- Kehilangan nafsu makan
- Demam
- BAB berdarah
- Penurunan berat badan tanpa sebab
Untuk gejala ringan, seperti diare, perut kembung, tubuh lelah biasanya sering salah diagnosa dengan penyakit lain. Ketika gejalanya tidak kunjung membaik baru dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Jangan tunggu sampai parah! Kalau kamu merasakan gejala di atas segera periksa ke dokter untuk penanganan yang tepat.
Bagaimana Cara Dokter Mendiagnosa Radang Usus?
Pertama-tama, dokter akan menanyakan gejala apa saja yang kamu alami. Dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan pengujian feses untuk memeriksa tingkat keparahan radang usus. Jika ada dugaan terkena radang usus, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan sebagai berikut:
- Endoskopi
Untuk melihat lokasi dan tingkat keparahan radang usus, dokter akan melakukan endoskopi. Pemeriksaan dengan memasukkan selang berkamera melalui mulut atau dubur hingga bagian usus yang terkena radang.
- Biopsi
Biasanya dokter melakukan endoskopi sekaligus biopsi untuk mengambil sampel lapisan usus untuk diteliti di laboratorium. Pemeriksaan ini untuk mengetahui jenis radang usus apa yang dialami agar penanganannya lebih tepat.
- Tes Pemindaian
Tes ini dilakukan untuk melihat kondisi pencernaan secara menyeluruh. Apakah ada komplikasi atau perluasan akibat peradangan. Pemindaian berupa CT scan, foto rontgen, USG, MRI, dan sebagainya.
- Tes Darah
Kalau tubuh kamu gampang lelah, tidak semangat biasanya itu karena mengalami anemia atau infeksi yang timbul karena radang usus. Untuk mengetahuinya, dokter akan mengambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium.

Cara Mengatasi Radang Usus (IBD)
Sebagai penyakit autoimun, IBD memang sulit untuk disembuhkan sepenuhnya. Tapi, bisa dikurangi gejalanya untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup. Berikut beberapa cara penanganan yang dapat dilakukan:
- Minum Obat-obatan
Pada gejala berat, dokter akan meresepkan obat-obatan tertentu. Biasanya jenis obat yang diresepkan tergantung pada lokasi peradangan itu sendiri. Umumnya, obat ini bertujuan untuk menekan peradangan dan mencegah sistem kekebalan tubuh menyerang usus.
Baca Juga: Tips Menjaga Kesehatan Usus Agar Tidak Mudah Sakit
- Operasi
Untuk beberapa kasus, tindakan operasi dibutuhkan untuk mengatasi keluhan IBD. Pada kolitis ulseratif, operasi dilakukan untuk mengangkat usus besar jadi sisa makanan dari usus halus akan langsung dibuang ke anus. Sedangkan, operasi Crohn’s disease dilakukan dengan membuang bagian saluran pencernaan yang rusak. Meskipun sudah dioperasi, penderita IBD tetap perlu menjalani pola hidup yang sehat untuk mencegah keluhan timbul kembali.
- Ubah Pola Hidup Sehat
Seseorang dengan riwayat IBD pasti sadar ada beberapa makanan yang bisa memperburuk gejala IBD, seperti makanan pedas, lemak, kafein, alkohol, dan susu. Usahakan konsumsi makanan dengan tekstur lembut dan perbanyak minum air putih. Hindari makan dengan porsi banyak sekaligus, lebih baik makan porsi kecil tapi sering untuk mencegah produksi asam lambung berlebih.
QnA
Apakah IBD bisa disembuhkan?
→ Sebagai penyakit autoimun, IBD memang sulit untuk hilang sepenuhnya. Tapi dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup, gejalanya bisa dicegah agar tubuh lebih fit dan nyaman jalani hari.
Adakah makanan yang harus dihindari?
→ Berbeda setiap orang, tapi umumnya kamu harus menghindari makanan pedas, tinggi lemak, susu, alkohol, dan kafein yang bisa memicu gangguan pencernaan.
Apakah penderita IBD boleh berolahraga?
→ Ya, olahraga ringan seperti yoga, jalan kaki, berenang sangat bermanfaat terutama saat masa recovery.
Apakah penderita IBD berisiko kanker?
→ Ya, terutama pada kolitis ulseratif kronis. Pemeriksaan endoskopi dan lainnya dibutuhkan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Kesimpulan
IBD memang penyakit autoimun yang sulit untuk dihilangkan sepenuhnya. Tapi dengan diagnosis yang tepat, pengobatan yang konsisten, pola hidup yang sehat, dan dukungan dari orang sekitar, banyak penderita IBD yang tetap bisa produktif dan nyaman beraktivitas setiap hari.
Jika kamu, keluarga, atau temanmu menunjukkan gejala IBD, jangan ragu untuk periksa ke dokter. Kenali gejalanya sedini mungkin untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.


