Oleh : DR.dr Nanny Djaya. MS Sp GK
Clinical Research Unit RSAJ / FKIK Unika Atma Jaya
Penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) di Indonesia telah menunjukkan peningkatan yang bermakna dari tahun 2000 hingga 2024. Penelitian di Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta, melaporkan peningkatan prevalensi GERD dari 5,7% pada tahun 1997 menjadi 25,18% pada tahun 2002.
Kemudian tahun 2013 Konsensus Nasional Penatalaksanaan GERD di Indonesia menyebutkan bahwa prevalensi GERD bervariasi sekitar 9,35% pada populasi umum berdasarkan kuesioner GERD. Pada tahun 2023: Data menunjukkan sekitar 27,4% masyarakat Indonesia pernah mengalami GERD, dengan peningkatan kasus sebesar 4% setiap tahunnya. (UGM).
Apa itu GERD?
Gastroesophageal Reflux Disease merupakan penyakit kronis pada sistem pencernaan yang terjadi ketika asam lambung atau isi lambung lainnya naik ke kerongkongan (esofagus). Hal ini menyebabkan iritasi pada dinding kerongkongan dan gejala yang khas, seperti sensasi terbakar di dada (heartburn).
Baca Juga: GERD: Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya
GERD merupakan bentuk yang lebih serius dari refluks asam biasa. Penyebab GERD adalah gangguan pada sfingter esofagus bagian bawah, otot berbentuk cincin yang berfungsi sebagai katup antara esofagus dan lambung. Jika LES melemah atau tidak menutup dengan baik, asam lambung dapat naik ke kerongkongan.
Penyebab dan Gejala GERD
Faktor-faktor penyebabnya seperti makanan berlemak, pedas, cokelat, kopi, alkohol, atau soda, penyandang obesitas, kehamilan, kebiasaan makan yang buruk dan kondisi medis tertentu seperti hernia hiatus atau gastroparesis (pengosongan lambung yang lambat).
Gejala GERD dapat bervariasi seperti sensasi terbakar di dada yang sering kali lebih buruk setelah makan atau saat berbaring, rasa asam atau pahit di mulut akibat makanan atau cairan lambung yang kembali naik.
Kesulitan menelan (disfagia): batuk kronis, suara serak, atau sakit tenggorokan serta rasa penuh atau nyeri di perut bagian atas. GERD dapat menyebabkan peradangan dinding kerongkongan (esophagitis), perubahan pada sel-sel esofagus yang dapat meningkatkan risiko kanker (Barrett’s Esophagu) dan penyempitan esofagus (striktur): Akibat jaringan parut dari kerusakan asam.
Cara Mengatasi GERD
Tatalaksana untuk mengatasi GERD adalah perubahan gaya hidup seperti menghindari makanan pemicu.yaitu makan dalam porsi kecil tetapi sering, menjaga berat badan ideal, tidak langsung berbaring setelah makan.
Gejala GERD dapat diatasi dengan mengonsumsi obat obatan antasida (untuk menetralisir asam), penghambat pompa proton (PPI) seperti omeprazole, H2-receptor blockers seperti ranitidine. Dan operasi pada kasus yang berat.
Peran Serat dalam Mengatasi GERD
Serat larut, seperti yang ditemukan dalam oatmeal, apel, atau psyllium, membentuk gel ketika bercampur dengan air. Gel ini dapat membantu memperlambat pengosongan lambung, sehingga mencegah tekanan berlebih pada sfingter esofagus bagian bawah, yang merupakan penyebab utama refluks asam.
Selain itu serat larut dapat mengurangi keasaman di lambung, serat larut juga dapat membantu menetralkan kelebihan asam lambung dengan menyerap cairan berlebih. Hal ini membantu mengurangi iritasi pada dinding esofagus akibat asam lambung.
Baca Juga: Apa Itu Prebiotik? Manfaat dan Sumber Makanan Terbaik
Manfaat lain dari serat larut adalah memperbaiki flora usus yaitu sebagai media pertumbuhan bagi bakteri baik di usus (prebiotik), di mana bakteri baik ini menghasilkan asam lemak rantai pendek yang membantu menjaga kesehatan pencernaan dan mengurangi peradangan, termasuk di saluran esofagus.
Serat larut dapat mengurangi frekuensi refluks dengan cara meningkatkan tekanan di sfingter esofagus bagian bawah dan mengurangi tekanan gas di saluran pencernaan, serat larut dapat membantu mengurangi jumlah refluks yang terjadi. Gel serat larut dapat melapisi dinding esofagus yang meradang, membantu mempercepat penyembuhan luka akibat iritasi asam lambung dan mengurangi peradangan di saluran pencernaan.
Pola Makan Sehat untuk Penderita GERD
Sumber serat larut yang baik untuk GERD adalah ubi ungu, edamame, oatmeal, apel tanpa kulit, pisang, wortel, psyllium husk dan biji chia atau flaxseed. Namun perlu diingat makanan tinggi serat dapat bersifat asam atau memicu gas, seperti buah jeruk atau bawang.
Pola makan dengan gizi seimbang, dan makan dalam porsi kecil yang di anjurkan. Asupan serat larut dapat di kombinasikan dengan pengobatan dokter.
Berikut adalah panduan pola makan yang tepat:
1. Makan dalam porsi kecil tetapi sering
- Hindari makan dalam porsi besar, karena dapat meningkatkan tekanan di perut dan memicu refluks.
- Disarankan makan 5-6 kali sehari dalam porsi kecil.
2. Pilih makanan yang aman untuk lambung
Berikut adalah makanan yang cenderung aman dan baik untuk penderita GERD:
- Karbohidrat kompleks: Oatmeal, nasi putih, roti gandum, kentang rebus.
- Protein rendah lemak: Dada ayam, ikan, tahu, tempe.
- Sayuran rendah gas: Wortel, brokoli, bayam, buncis.
- Buah rendah asam: Pisang, apel yang sudah dikupas, pepaya, melon.
- Lemak sehat: Minyak zaitun, alpukat, kacang almond (dalam jumlah terbatas).
- Serat larut: Oatmeal, psyllium husk, biji chia.
3. Hindari makanan yang memicu asam lambung
- Makanan berlemak tinggi: Gorengan, makanan cepat saji, daging berlemak.
- Makanan pedas: Cabai, lada, saus pedas.
- Buah asam: Jeruk, lemon, nanas, tomat.
- Minuman berkafein atau bersoda: Kopi, teh hitam pekat, soda.
- Alkohol: Dapat melemahkan sfingter esofagus bagian bawah (LES).
- Cokelat: Kandungan kafein dan theobromine dapat memicu refluks.
4. Hindari makan sebelum tidur
- Beri jeda 2-3 jam antara makan terakhir dan waktu tidur untuk mencegah refluks asam saat berbaring.
5. Posisi makan yang tepat
- Saat makan, duduk tegak dan hindari langsung berbaring setelah makan.
- Setelah makan, usahakan tetap dalam posisi duduk atau berdiri selama 30-60 menit.
6. Perhatikan metode memasak
- Pilih metode memasak yang sehat seperti merebus, mengukus, memanggang, atau menumis dengan sedikit minyak.
- Hindari makanan yang digoreng atau dimasak dengan minyak berlebihan.
7. Cukupi cairan dengan tepat
- Minum air putih secara teratur, tetapi hindari minum terlalu banyak dalam satu waktu, terutama saat makan.
- Hindari minuman berkarbonasi atau jus asam.
Contoh Menu Sehari untuk Penderita GERD
Sarapan:
- Minuman serat ubi ungu dengan multigrain (HOTTO) dengan pisang dan susu rendah lemak.
- Air putih.
Snack Pagi:
- Apel kukus (tanpa kulit).
Makan Siang:
- Nasi putih, dada ayam rebus, dan sayur wortel rebus.
Snack Sore:
- Minuman serat ubi ungu dengan multigrain (HOTTO)
Makan Malam:
- Sup ayam dengan sayuran.
- Pepaya sebagai pencuci mulut.
Reference
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK)
Menyebutkan bahwa pola makan kaya serat dapat membantu menurunkan risiko refluks asam karena serat meningkatkan fungsi pencernaan secara keseluruhan.
Link: NIDDK
American College of Gastroenterology (ACG)
Dalam panduan manajemen GERD, ACG menyebutkan pentingnya perubahan gaya hidup, termasuk diet kaya serat, untuk mengurangi gejala GERD.
Link: American College of Gastroenterology
Artikel Jurnal Nutrisi
Sebuah studi dari jurnal “World Journal of Gastroenterology” menyebutkan bahwa serat makanan, terutama serat larut, berperan dalam mengurangi keparahan GERD dengan memperbaiki motilitas lambung dan mengurangi paparan asam pada esofagus.
Referensi: M. Heidelbaugh et al., “Management of Gastroesophageal Reflux Disease,” World Journal of Gastroenterology, 2013.
PubMed Central (PMC)
Bagaimana serat larut dapat berperan sebagai pelindung mukosa lambung dan membantu dalam penyembuhan refluks esofagus. Salah satu studi:
Link: PMC – The role of dietary fiber in GERD


