
Menurut kamu, kenapa ada penderita asam lambung yang dilarang puasa sama dokter, tapi ada juga yang justru keluhannya membaik selama puasa? Kedengarannya kontradiktif, kan. Harusnya kalau lambung kosong, asam lambung naik, perut jadi perih. Tapi kok ada yang malah ngerasa lebih nyaman? Ternyata ini ada penjelasan ilmiahnya.
Saat kita puasa, sistem pencernaan punya waktu istirahat lebih panjang. Frekuensi makan berkurang dan pola makan pun lebih teratur. Hal ini bisa bantu kurangi refluks bagi sebagian orang. Tapi, hal ini hanya dapat terjadi jika puasa dijalani dengan benar! Ada juga orang yang lambungnya sensitif, pola makannya berantakan saat sahur dan berbuka, puasa justru bikin lambung makin parah.
Jadi, kuncinya ada di cara kita menjalani puasa. Di artikel ini, kita akan membahas secara lengkap mulai dari kenapa puasa bisa buat penderita asam lambung lebih baik, dan bagaimana cara berpuasa yang baik.
Pengertian Asam Lambung
Sebelumnya, kita harus tahu dulu pengertian dari asam lambung itu sendiri. Banyak yang salah kaprah nih, asam lambung itu bukan musuh buat tubuh kita. Justru tubuh kita butuh asam lambung untuk mendukung proses metabolisme dan pencernaan, mulai dari memecah protein, membunuh bakteri patogen, dan bantu penyerapan nutrisi. Masalah asam lambung baru akan muncul ketika jumlah asam berlebih atau cairan asam naik ke kerongkongan. Inilah yang membuat seseorang bisa terkena maag atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Gejala yang muncul pun bisa beraneka ragam, antara lain:
- Sensasi terbakar di dada (heartburn)
- Nyeri ulu hati
- Mual, bisa sampai muntah
- Perut kembung
- Cepat kenyang
- Mulut terasa asam atau pahit
- Perut perih
- Sulit menelan
- Suara serak
- Bau mulut
Gejala-gejala ini umumnya muncul karena pola makan dan gaya hidup kita. Oleh karenanya, apa yang kita makan, bagaimana cara kita makan, punya peran yang besar dalam memicu atau meredakan gejala ini.

Benarkah Asam Lambung Bisa Membaik Selama Puasa?
Bisa, tapi dengan catatan. Baik atau tidaknya tergantung dari gaya hidup yang kamu jalani selama puasa. Karena ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa puasa dapat memberikan efek positif pada tubuh kita. Salah satunya, penelitian dari Acta Medica Indonesiana yang bilang gejala GERD terasa lebih ringan bagi kelompok yang berpuasa dibandingkan kelompok yang tidak berpuasa.
Hal ini sama dengan studi yang dilakukan di Saudi Arabia, terbukti gejala heartburn dapat turun secara signifikan selama puasa Ramadan. Kenapa bisa begitu? Ini ada penjelasan ilmiahnya.
1. Pencernaan Punya Waktu Istirahat
Saat kita puasa, tubuh tidak menerima asupan makanan selama kurang lebih 13 jam. Artinya, pemicu asam lambung naik pun berkurang. Lambung nggak terus-menerus distimulasi, produksi asam lambung lebih terkendali, tekanan pada lambung pun berkurang.
2. Berat Badan Lebih Terkontrol
Dengan pola makan seimbang, turun berat badan selama bulan Ramadan bukan sesuatu yang nggak mungkin! Penelitian yang dilakukan oleh Singh Mandeep, dkk. juga menunjukkan bahwa penurunan berat badan dapat mengurangi terjadinya gejala GERD. Berkurangnya lemak viseral (lemak di sekitar perut) bisa mengurangi tekanan pada perut yang mendorong asam lambung naik. Karena tekanan perut berkurang, frekuensi terjadinya refluks pun menurun, lama-kelamaan gejala GERD akan mereda.
3. Frekuensi Merokok Berkurang
Gejala GERD yang membaik selama puasa berhubungan erat dengan berkurangnya frekuensi merokok. Hal ini juga dijelaskan dalam penelitian dari Acta Medica Indonesiana, salah satu alasan utama kenapa GERD bisa membaik saat bulan Ramadan adalah berkurangnya kebiasaan merokok. Kandungan nikotin dalam rokok bisa melemahkan LES atau katup pembatas lambung dan kerongkongan yang menghalangi asam lambung naik.
Tapi, Kenapa Ada yang Makin Parah Saat Puasa?
Itu karena puasa nggak dijalani dengan cara yang tepat. Lambung yang kosong selama kurang lebih 13 jam sebenarnya kondisinya sensitif. Kalau saat buka puasa langsung diisi makanan pedas, berminyak, dan kalap makan dalam porsi besar, ya… nggak heran asam lambung langsung naik. Bukannya lega, perut justru terasa begah, mual, dan nggak nyaman. Apalagi kalau abis makan langsung rebahan, tekanan di lambung meningkat dan asam pun lebih mudah naik ke kerongkongan.
Inilah kenapa banyak yang bilang puasa “memperparah” asam lambung. Padahal seringkali alasannya bukan karena puasa, tapi pola makan kita saat sahur dan berbuka. Tapi ada faktor lain juga nih yang suka dilupain, yaitu hidrasi dan asupan serat!
Banyak yang terlalu fokus minum sebanyak mungkin saat berbuka, tapi lupa kalau tubuh menyerap cairan itu secara bertahap. Makanannya juga jarang yang mengandung serat. Padahal serat inilah yang dapat mencegah asam lambung naik ke kerongkongan. Dalam pencernaan, serat akan berubah jadi gel yang bekerja seperti sponge. Dia bisa menyerap asam lambung berlebih karena lambung kosong terlalu lama. Serat ini terkandung di dalam sayuran, buah-buahan, biji-bijian, atau minuman multigrain berserat tinggi, seperti Hotto. Buat kamu yang ingin lebih praktis bisa minum Hotto sebagai takjil berbuka puasa!
Makanya, wajar kalau ada dokter yang melarang penderita asam lambung untuk puasa. Terutama bagi mereka yang kondisinya sudah parah. Tapi bagi penderita asam lambung ringan, puasa justru bisa jadi momen untuk memperbaiki pola makan dan memberi kesempatan lambung untuk pulih.

Cara Berpuasa yang Aman untuk Lambung Sensitif
Ada beberapa cara berpuasa yang aman untuk lambung sensitif yang bisa kamu ikuti, antara lain:
1. Porsi Kecil
Setelah berpuasa selama kurang lebih 13 jam, lambung tidak bisa langsung menerima makanan dalam porsi besar. Perut perlu waktu untuk mencerna makanan. Oleh karenanya, makan dalam porsi kecil terlebih dahulu. Begitu pula dengan sahur, makanlah dalam porsi kecil terlebih dahulu. Jika dirasa kurang baru menambah porsi agar lambung bisa mencernanya dengan baik.
2. Usahakan Makan secara Perlahan
Siapa di sini yang suka kalap saat buka puasa? Meskipun merasa lapar, usahakan untuk makan secara perlahan. Hal ini untuk mencegah pencernaan kamu syok setelah beristirahat selama 13 jam. Kalau kita makan terlalu cepat, perut bisa mual, begah, bahkan nyeri perut karena asam lambung naik. Makanlah secara perlahan dan kunyah makanan dengan baik.
3. Pilih Makanan Ramah Lambung
Ini nih yang harus benar-benar diperhatikan! Pastikan pilihan makanan sahur dan berbuka yang ramah lambung. Hindari makanan pedas, asam, berlemak, kafein, dan minuman bersoda. Kalau ingin makan pedas pun, lebih baik makan yang ramah lambung dulu supaya lambung kosong tadi nggak langsung berinteraksi sama pedasnya capsaicin cabai.
4. Tidur 2 Jam Setelah Makan
Setelah makan, jangan pernah langsung rebahan! Apalagi buat kamu yang punya masalah lambung. Kasih jeda sekitar 2 – 3 jam sebelum tidur, sampai semua makanan tercerna secara sempurna. Hal ini untuk menghindari produksi asam lambung berlebihan dibanding biasanya.
Kesimpulan
Puasa bukanlah musuh bagi penderita asam lambung, terutama buat yang keluhannya masih ringan. Semua kembali lagi ke bagaimana cara kita menjalaninya. Dengan pola makan teratur, pilihan makanan yang ramah lambung, asupan cairan dan serat cukup, dan kebiasaan makan pun lebih mindful, puasa akan terasa jauh lebih nyaman. Bahkan, bagi beberapa orang mungkin bulan puasa Ramadan dapat mengurangi keluhan asam lambungnya.
