Berlari Melawan Usia, Fifi Finish Ultramarathon di usia 50

Berlari Melawan Usia, Fifi Finish Ultramarathon di usia 50
Cerita Fifi Olahraga Ultramarathon di usia 50

Testimoni – Fifi Bonefacia

Problem: Gaya Hidup

Banyak orang ngerasa usia itu kayak batas. Tapi buat Fifi Bonefacia, usia justru jadi pengingat. Pengingat kalau tubuh itu perlu dijaga lebih sadar, bukan malah ditinggalkan pelan-pelan. Dan semua konsistensi yang ia bangun bertahun-tahun lalu, baru benar-benar kerasa sekarang, saat usianya sudah masuk kepala lima dan ia masih sanggup menaklukan berbagai marathon.

Semua Berawal dari Rutinitas yang Terlihat Sepele

Nama saya Fifi. Sekarang usia saya 53, sebentar lagi 54. Saya mulai lari itu tahun 2014. Jujur aja, waktu itu sama sekali nggak ada kepikiran buat jadi pelari. Hidup saya ya gitu-gitu aja. Pagi antar anak sekolah, terus pulang. Di jalan pulang itu saya sering lewat area yang jalannya panjang dan enak. Sampai suatu hari ada teman yang ngajak lari. Saya ikut aja, tanpa ekspektasi apa-apa. Dulu saya memang suka olahraga, tapi bukan lari. Jadi awalnya ya santai banget. Lari pelan, nggak mikirin jarak, nggak mikirin target. Tapi karena dijalanin terus, hari demi hari, badan mulai kebiasa. Dari yang awalnya cuma ikut-ikutan, lama-lama lari malah jadi rutinitas yang saya tunggu tiap pagi.

Awal Mengenal Hotto

Saya pertama kali kenal dan coba Hotto itu tahun 2023, waktu Hotto jadi support di BFI Run. Yang bikin saya penasaran waktu itu simpel. Bahannya dari ubi ungu, tapi bentuknya minuman, kayak sereal. Buat saya itu sesuatu yang beda. Pertama kali coba, saya minum Hotto bareng telur. Kopi juga saya kurangin. Yang langsung kerasa, perut keisi tapi nggak berat. Badan dapet energi, tapi rasanya ringan. Saya nggak gampang lapar, biasanya bisa tahan sekitar satu jam. Dari situ, pelan-pelan Hotto mulai masuk ke rutinitas saya, terutama buat nemenin aktivitas lari.

Baca Juga: Lansia dan Olahraga: Rahasia Tubuh Sehat di Usia Lanjut

Rahasia Fifi Sukses Marathon

Waktu saya ikut ultra marathon 24 jam, urusan asupan itu benar-benar saya pikirin. Saya bawa lima saset Hotto, dan saya atur kapan minumnya, kira-kira tiap 40 kilometer. Di race sepanjang itu, saya lihat sendiri banyak pelari yang akhirnya kena masalah pencernaan. Asam lambung naik, perut nggak enak, akhirnya ritme lari ikut berantakan. Buat saya pribadi, Hotto cukup ngebantu. Praktis, gampang diminum, dan yang paling penting, nggak bikin perut bermasalah. Jadi saya bisa fokus jaga ritme lari tanpa kepikiran terus soal perut atau asupan. Di lomba selama itu, rasa aman sama apa yang kita konsumsi itu krusial banget.

Hotto Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Sekarang Hotto juga sudah jadi bagian dari keseharian saya. Kadang saya minum malam-malam, karena saya sudah jarang makan malam. Kalau minum Hotto, perut rasanya lebih tenang dan nggak gampang lapar sampai pagi. Saya juga lagi jalanin pola makan Vegie, dan Hotto masih cocok buat dikombinasikan. Kalau lari ke luar negeri pun, saya selalu bawa. Saya sudah bawa Hotto ke Berlin dan Chicago. Lebih ke jaga-jaga, kalau makanan setempat nggak cocok sama perut.

Target Lari yang Ingin Terus Dikejar

Ke depan, tujuan lari saya cukup jelas. Saya ingin ikut lagi ultra marathon 24 jam dan ngejar jarak 170 kilometer. Target itu saya pasang karena saya ingin bisa lolos kualifikasi Spartathlon di Yunani. Buat saya, Spartathlon itu bukan sekadar lomba. Itu simbol. Simbol konsistensi. Simbol bahwa tubuh yang dirawat dan dilatih pelan-pelan selama bertahun-tahun, masih bisa diajak kerja sejauh itu. Selain itu, saya juga sudah diterima di Boston Marathon. Itu juga jadi target yang ingin saya jalani dengan persiapan yang matang. Bukan buat ngejar waktu atau buktiin apa-apa ke orang lain, tapi buat buktiin ke diri sendiri kalau usia nggak otomatis ngebatesin kemampuan, selama tubuhnya terus dijaga.

Hotto Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Pesan Pribadi Fifi

Kalau saya boleh nitip satu pesan, jangan malas bergerak. Pandemi kemarin jadi pengingat besar buat saya, kalau kesehatan itu nggak bisa ditunda. Olahraga penting, tapi sama pentingnya juga soal nutrisi dan lebih sadar sama apa yang kita masukin ke tubuh. Usia pasti nambah, itu nggak bisa dihindari. Tapi kita masih punya pilihan. Mau menjalani usia dengan tubuh yang terus dilatih, atau tubuh yang pelan-pelan ditinggalin. Selama tubuh saya masih bisa diajak gerak, saya ingin terus konsisten. Karena dari pengalaman saya, konsistensi kecil yang dijaga tiap hari itu jauh lebih berarti daripada semangat besar yang cuma datang sesekali.

You might also like...