
Testimoni – Vera Lee
Problem: Kanker
Sejak divonis kanker stadium dua, Vera berusaha menjalani hari-harinya dengan lapang dada. Ia memilih untuk tetap kuat dan menerima kenyataan yang datang. Namun perjuangan terberatnya justru bukan saat mendengar kata kanker, melainkan ketika harus melewati proses kemoterapi. Rasa sakit, mual, dan perih yang muncul setiap kali makan atau minum perlahan menguras tenaganya, bahkan sampai membuatnya muntah dan kehilangan selera makan.
Saat Awal Divonis Kanker
Hai, aku Vera. Dari dulu sebenarnya aku termasuk orang yang cukup jaga kesehatan. Walaupun jarang olahraga, aku selalu berusaha jaga makan dan bahkan hampir nggak pernah makan gorengan. Makanya waktu dokter bilang aku kena kanker, aku benar-benar shock. Aku ngerasa nggak punya gejala apa-apa. Badan fit, nafsu makan normal, tidur juga nggak ada masalah. Awalnya aku periksa ke dokter cuma karena ada benjolan kecil di dekat leher. Aku dan suami ngira itu cuma peradangan biasa. Tapi setelah pindah-pindah dokter sampai akhirnya ke dokter bedah, barulah ketahuan kalau itu sel kanker. Di titik itu aku sempat susah banget nerima kenyataannya. Aku mikir, aku nggak hidup sembarangan, tapi kenapa justru aku yang kena. Sampai akhirnya aku belajar menerima dan memutuskan buat berjuang.
Baca Juga: Kanker Bisa Dicegah Lewat Pola Makan dan Nutrisi Sehari-hari
Sakitnya Justru Bukan Dari Kankernya, Tapi Kemoterapinya
Yang hampir bikin aku menyerah justru bukan kankernya, tapi proses kemoterapinya. Aku sama sekali nggak nyangka efeknya bakal sesakit itu. Dari ujung kepala sampai kaki rasanya nyeri semua. Setelah kemo, kondisinya malah terasa lebih parah. Badan mual, muntah, dan ujung-ujung jari pun ikut terasa sakit. Bagian paling berat buat aku adalah saat makan. Setiap kali waktu makan datang, rasanya seperti siksaan. Aku sempat nggak bisa makan makanan padat sama sekali karena setiap ditelan pasti perih. Rasanya seperti menelan sesuatu yang tajam dan menyakitkan. Akhirnya aku cuma bisa makan makanan yang benar-benar lembek dan minum kuah kaldu ayam saja di awal-awal kemo.
Semenjak Minum Hotto Fase Kemo Jadi Lebih Mudah
Aku pertama kali kenal Hotto dari adikku. Dia kasihan lihat aku yang bosen cuma makan telur rebus dan kaldu ayam setiap hari. Waktu dia nyaranin Hotto, aku sempat ragu karena katanya bisa menggantikan satu kali makan penuh. Tapi setelah aku coba, ternyata rasanya enak dan yang paling penting, nyaman di perut dan nggak perih di tenggorokan. Sejak kemoterapi, hampir semua makanan dan minuman terasa aneh, seperti ada rasa kimia yang bikin eneg. Tapi Hotto beda. Aku nggak ngerasain bau atau rasa kimia yang biasanya bikin mual. Setelah rutin minum Hotto, perutku juga jadi lebih jarang mual dan sakit. Sejak itu aku mulai menjadikan Hotto sebagai sarapan dan pelengkap setiap kali rasa mual datang.

Setelah Rutin Minum Hotto di Masa Kemo
Salah satu efek kemoterapi yang aku rasakan adalah sakit di area perut ke bawah dan susah BAB. Tapi ternyata setelah rutin minum Hotto, BAB-ku jadi lebih lancar. Memang di fase kemoterapi, rasa mual dan sakit perut itu nggak bisa hilang sepenuhnya. Tapi Hotto sanget membantu meredakan rasa nggak nyaman itu dan bikin momen makan jadi nggak seberat sebelumnya. Buat aku yang kondisinya sudah nggak memungkinkan buat masak atau menyiapkan makanan ribet, kepraktisan Hotto jadi penyelamat. Berdiri terlalu lama saja bisa bikin badan lemes dan pusing, jadi aku butuh asupan yang sehat, praktis, dan gampang dibuat kapan aja.
Harapan Dan Pesan Dari Vera
Sempat terlintas di pikiranku kalau vonis ini akan jadi akhir dari segalanya. Tapi dari dukungan orang-orang terdekat, aku sadar kalau menyerah berarti aku kalah bukan cuma dari rasa sakit, tapi juga dari diriku sendiri. Jadi aku memilih untuk terus melawan dan menghadapi semua rasa sakit serta ketidaknyamanan yang datang. Buat aku, kuncinya adalah tetap yakin, tetap beriman, dan terus berusaha untuk sembuh. Hotto sudah menemani aku sampai sejauh ini. Dan buat kamu yang juga sedang berjuang, aku sangat menyarankan untuk menjadikan Hotto sebagai pelengkap nutrisi. Karena aku tahu rasa sakit dan nggak nyamannya di fase ini, tapi tubuh tetap butuh nutrisi dan energi untuk terus bertahan dan berjuang buat sembuh.

