
Testimoni – Ibu Jo Widyana
Problem: Hyper Sensory Sensitive
Menjadi seorang ibu adalah pengalaman yang mulia, tapi tentu prosesnya tidak selalu mudah. Ada banyak tantangan yang datang, salah satunya ketika anak menolak makan. Seperti cerita Lidya yang harus menghadapi kenyataan kalau anak keduanya, Luis kesulitan makan dari kecil.
Saya ibu dari 2 anak. Anak saya yang kedua, namanya Luis. Dari kecil dia memang udah susah makan. Awalnya saya kira dia cuma picky eater aja kayak anak kecil biasanya, tapi makin lama kok makin parah. GTM (Gerakan Tutup Mulut) total, semua makan ditolak. Dikasih abon nggak mau, nasi, buah, sayur, daging, apapun.
“Nih anak udah nggak normal, semua makanan nggak mau”, akhirnya saya bawalah ke terapis. Dan bener, diagnosisnya Hyper Sensory Sensitive. Jadi, tubuhnya sangat sensitif terhadap stimulasi dari luar.
Perjuangan Mental Seorang Ibu
Jujur, proses ini benar-benar perjuangan mental. Saya juga awalnya nggak tau harus mulai dari mana. Takut anak saya kelaparan, takut dia kekurangan gizi, apalagi sampai umur 3 tahun dia maunya minum susu aja. Badan dia lama kelamaan jadi makin kecil, tulang rusuknya aja sampai kelihatan. Nah, kebetulan ada mamah di sekolah yang badan anaknya mirip sama Luis. Akhirnya direkomendasikan ke terapis. Dari situlah, akhirnya saya bawa Luis ke terapis.
Setelah diobservasi, keluar diagnosa Hyper Sensory Sensitive. Jadi kalau kita dicubit rasanya biasa aja, nah bagi anak saya kesannya tuh dicubit sampai dipelintir. Dan area yang paling parah itu di mulut. Makanya, dia nggak bisa nerima tekstur yang menurut dia bahaya. Setelah coba banyak makanan, yang dianggap paling bahaya adalah nasi.
Pas saya dengar itu semua dari terapis, kayak dunia tuh… gimana ya. Anak saya bagaimana ke depannya? Saya yakin pasti bisa, tapi prosesnya nggak mudah. Tapi saya nggak boleh terpuruk, apapun buat anak, saya harus berjuang karena at the end of the day, ini hidup anak saya–bukan hidup saya.

Semua Gizi yang Dia Tolak, Ada di Hotto
Saya tau Hotto itu pertama kali dari personal trainer. Tadinya saya males, apa sih makanan sereal gitu. Tapi, yauda deh coba beli sedikit dulu. Pas saya cobain ke Luis, dia langsung makan. Hap. Hap. Hap. Habis satu sachet. Nggak ada drama tolak-tolakan. Eh, besoknya minta lagi sampai sekarang.
Trus saya baca kandungan gizinya, lengkap! Semua yang anak saya nggak mau, ada di Hotto. Rasa manisnya juga pas, teksturnya lembut kayak bubur, aromanya wangi, warnanya juga menarik buat anak-anak. Sekarang setiap dia sarapan, pasti saya kasih Hotto.
Dari Hotto, Anak Saya Mulai Mau Makan
Semenjak 3-4 bulan minum Hotto, anak saya jadi mau nyoba makanan lain. Misalnya, makan roti pakai es krim, brownies, pancake. Soalnya saya sengaja, seduh Hotto agak kental karena saya mau latih dia ngunyah pelan-pelan. Hotto ini walaupun lembut, masih ada tekstur halus dari biji-bijian. Jadi bagus untuk sensory mulut Luis. Dari situ pikiran dia jadi lebih terbuka, “Oh, ternyata makanan banyak yang enak ya.”
Kalau nggak salah, berat badan Luis dari 23 kg naik sampai 25,5 kg. Yang nemuin Hotto, saya beneran mau bilang… kamsia pisan. Bener-bener berterima kasih, anak saya jadi bisa makan. Meskipun, nanti anak saya udah mau makan banyak hal, saya akan tetap suruh dia makan Hotto sih. Karena saya nggak tau ya, dia mau makan semua jenis sayur atau nggak? Kalau minum Hotto kan asupan seratnya ada.

Buat Para Ibu di Luar Sana
Buat ibu yang punya anak GTM, jangan menyerah. Saran saya satu: jangan terlalu idealis. Yang penting anak mau makan dulu, ada gizi yang masuk ke dalam tubuh–itu dulu aja. Memang tiap anak kondisinya berbeda-beda, tapi kalau kasus anak saya–wajib punya Hotto sih.
Pokoknya buka mata, buka telinga, lihat kondisi anak masing-masing. Kalau memang anak butuh bantuan atau ada yang berbeda pada anak, jangan malu. Lupakan ego, ingat hidup anakmu bukan hidupmu. Lakukan terbaik yang ibu bisa biar nggak ada penyesalan di hari tua nanti. Saya yakin, kita pasti bisa.

