Cerita Adjani Dari Eating Disorder Jadi Pelari Marathon

Cerita Adjani Dari Eating Disorder Jadi Pelari Marathon
Cerita Adjani Terapi Eating Disorder Menjadi Pelari Marathon

Testimoni – Adjani

Problem: Healthy Lifestyle

Aku mulai lari itu karena pengen sembuh. Dan jujur, nggak pernah nyangka kalau perjalanan ini membawa aku sampai ke full marathon keempat di Chicago. Semua berawal dari tahun 2017. Saat itu aku lagi berjuang dengan eating disorder karena insecure sama badan aku sendiri. Sama seperti remaja SMP lainnya, aku ngerasa nggak percaya diri sama tubuhku, sampai akhirnya aku berpikir makin sedikit aku makan, makin baik. Tapi tentu aja hal itu nggak benar, dan setelah 4 tahun akhirnya aku mulai seek help from professional. 

Aku inget banget, psikologku bilang “Coba deh cari olahraga yang bisa ubah mindset dari harus makan dikit biar kurus. Jadi makan banyak biar kuat olahraga.” Dari situ aku ketemu lari. Soalnya kebetulan mamaku juga seneng lari, jadi aku coba ikutan. 

Dari Terapi Menjadi Pelari Sejati

Sekitar setahun aku mulai lari, di tahun 2018 mindset aku mulai berubah. Aku mulai suka banget sama olahraga lari, mulai ikut lomba-lomba, cobain half marathon. Dengan lari aku jadi lebih disiplin dan belajar untuk memahami tubuh aku sendiri. Meskipun awalnya lari itu salah satu terapi eating disorder aku, tapi di tahun 2022 aku berhasil menyelesaikan full marathon pertamaku di London. Dan sekarang, aku baru aja kelar kuliah S2 di London sambil latihan buat full marathon keempat di Chicago. 

Persiapan lari marathon cukup panjang, biasanya sampai 4 bulan. Waktu masih di London, aku bisa lari 30-40 km per minggu. Dan kemarin aku sempat latihan 27 km, tapi sekarang udah mulai masuk fase tapering sebelum race. Jadi, lebih santai biar tubuh juga nggak kecapean pas hari H.

Nah, selama fase latihan dan lari marathon ini tentu ada tantangannya. Kebetulan perut aku tuh sensitif banget dari dulu, sedangkan buat lari aku butuh nutrisi yang cukup. 

Tantangan Saat Lari Marathon 

Aku kemarin coba tes genetik, soalnya perut aku tuh gampang banget error dari kecil. Hasilnya emang menunjukkan kalau perutku sensitif dan punya beberapa pantangan makanan. Plus, karena pernah punya riwayat eating disorder, aku juga sempat kena asam lambung. Dengan kondisi pencernaan aku yang kayak gini, aku “dipaksa” untuk hidup sehat. Bukan sekadar keinginan, tapi emang kebutuhan tubuh aku.

Tantangan Saat Lari Marathon

Masalahnya, aku jadi kesulitan buat cari makanan sebelum lari. Aku nggak bisa makan berat, kalau orang-orang bisa sarapan roti atau nasi, aku pasti langsung sakit perut. Aku juga punya lactose intolerant kan, jadi susu juga bukan opsi. Udah sempet coba berbagai hal, tapi semuanya nggak works. Bahkan pernah nyoba cuma minum teh, eh nggak kuat karena nggak ada energinya. Sampai akhirnya aku cobain Hotto.

Udah coba minum selama sebulan buat pre running intake aku, alhamdulillah cocok sih. Perut nggak sakit, kuat buat lari juga, bahkan sempet long run. 

Kenapa Pilih Hotto?

Awal aku tau Hotto itu karena liat di Instagram, ada banyak yang minum Hotto sebelum iron man atau lari. Trus aku jadi tertarik, kenapa nggak aku coba aja ya buat lari. Eh, ternyata cocok banget!

Yang aku suka dari Hotto tuh, dia ngenyangin tapi ringan, nggak bikin mual dan bisa kasih aku energi buat lari. Rasanya juga nggak terlalu manis dan aman banget buat aku yang punya lactose intolerant. Biasanya aku minum Hotto Purto sebagai pre running meal, kadang kalau lagi laper banget aku campur Hotto sama pisang biar makin kenyang. 

Surprisingly, minum Hotto sekali aja–aku bisa kuat lari sampai 27 km. Kalau sekarang, Hotto nggak cuma buat running meal aku. Tapi juga sebagai snack sehat! Kadang sore-sore aku suka seduh pas pengen ngemil. Dengan masalah perut yang aku punya, jujur aku seneng banget sih akhirnya nemu minuman yang enak, sehat, dan cocok buat perut aku.

Karena cocok, aku juga rekomendasiin ke temen-temen lari aku. Sejauh ini responnya positif semua. Bahkan, aku pernah bilang ke mama “Ma, aku tuh dari kemarin minum hotto, enak deh, cobain”. Tiba-tiba pas aku pulang, ternyata mama aku udah beli sendiri dan ada dong Hotto di rumah. 

Kenapa Pilih Hotto

Hidup Sehat itu Dimulai Dari Diri Sendiri

Dulu aku lari buat sembuh dari eating disorder. Sekarang, aku lari karena aku suka. Lari mengajarkan aku konsistensi, kesabaran, dan yang paling penting: mencintai diri aku sendiri. Dari situ aku jadi mulai hidup lebih sehat. Aku belajar ternyata hidup sehat itu penting banget dimulai dari mindset kita. 

Sama seperti lari, kadang di kilometer 30an ada masa yang disebut ‘hit the wall’ dimana fisik sebenarnya masih bisa lari, tapi pikiran udah bilang berhenti. Di momen itu, aku selalu bilang ke diri sendiri “your body achieve what your mind believe.” Makanya, aku bisa selesain 3 full marathon kemarin di London, Tokyo, Berlin, dan sekarang persiapan latihan major marathon berikutnya  di Chicago.

Dalam perjalanan itu, aku bersyukur banget bisa ketemu Hotto. Karena Hotto buat aku, bukan cuma minuman sehat–tapi support system aku buat bisa tetep lari marathon.

You might also like...