Pernah dengar tentang Hiatal Hernia? Mungkin namanya terdengar asing, tapi bisa jadi kamu atau bahkan orang tuamu pernah mengalaminya tanpa sadar. Tubuh kita punya sekat otot bernama diafragma–otot yang membuat dada naik-turun saat kita menghirup dan menghembuskan napas. Diafragma juga menjadi pembatas antara rongga dada (tempat jantung, paru-paru) dan perut (tempat lambung, usus, dll).
Nah, ketika bagian atas lambung naik ke atas lewat lubang diafragma dan masuk sedikit ke rongga dada. Inilah yang disebut Hiatal Hernia. Banyak orang nggak sadar terkena penyakit ini karena seringkali tidak menimbulkan gejala. Tapi, pada sebagian kasus, bisa muncul keluhan, seperti dada panas, sesak, sulit menelan. Kalau dibiarkan, bisa menyebabkan komplikasi peradangan kerongkongan akibat asam lambung naik terus menerus. Jangan anggap sepele! Yuk, kita kenali gejalanya, penyebab, dan cara mengatasi secara tepat.
Gejala Hiatal Hernia
Memang tidak semua orang dengan hiatal hernia mengalami gejala. Tapi, kalau timbul gejala, biasanya kamu akan mengalami hal berikut ini:
- Dada terasa panas atau terbakar (heartburn)
- Mulut terasa pahit asam
- Dada terasa nyeri dan tidak nyaman
- Kesulitan menelan
- Perut terasa begah
- Perut mual atau bahkan muntah
- Batuk kronis hingga suara sesak
- Radang tenggorokan jika sudah berlangsung lama
- Kesulitan untuk menelan
Kok gejalanya mirip dengan GERD? Iya, karena Hiatal Hernia bisa menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan (refluks), sehingga memicu gejala seperti di atas.
Baca Juga: Macam-macam Penyakit Asam Lambung dan Cara Pencegahannya
Penyebab Hiatal Hernia
Penyebab utama Hiatal Hernia adalah peningkatan tekanan di rongga perut, sehingga lambung terdorong ke atas. Sayangnya, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Meski begitu beberapa faktor di bawah ini dapat menjadi pemicunya, antara lain:
- Batuk kronis hingga memberikan tekanan berlebih di dalam perut
- Mengejan terlalu keras saat buang air besar
- Angkat beban terlalu berat
- Lemahnya otot diafragma karena bertambahnya usia
- Adanya cedera pada area perut dan dada
- Obesitas yang akan memberikan tekanan pada perut
- Kehamilan
- Faktor keturunan, beberapa orang secara alami memiliki lubang diafragma lebih besar atau lemah
Siapa Saja yang Berisiko Terkena Hiatal Hernia
Pada dasarnya, Hiatal Hernia dapat dialami oleh siapa saja. Tapi pada beberapa kasus, Hiatal Hernia lebih sering dialami oleh orang tua di atas 50 tahun. Seiring bertambahnya usus, otot-otot tubuh kita–termasuk diafragma akan melemah. Apalagi jika pola hidup tidak sehat, risiko terkena Hernia ini akan semakin besar.
Misalnya, kebiasaan makan berlebihan, jarang olahraga, atau sesimple sering mengejan saat buang air besar–bisa meningkatkan tekanan di area perut. Tekanan inilah yang akan mendorong bagian atas lambung untuk naik ke rongga dada lewat diafragma. Jadi, menjaga pola hidup sehat sangatlah penting.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksa ke dokter kalau kamu sudah mengalami gejala di atas, terutama jika diikuti dengan keluhan di bawah ini:
- Sering mengalami nyeri dada
- Sulit menelan hingga berat badan turun drastis
- Muntah darah/ muntah terus menerus
- Sulit BAB atau buang gas
- Sakit perut terus menerus
Jika kamu atau orang terdekat mengalami keluhan di atas, jangan ragu–segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis secara tepat.
Bagaimana Cara Mendiagnosis Hiatal Hernia?
Untuk mendiagnosis hiatal hernia, dokter biasanya melakukan beberapa pemeriksaan berikut:
- Pemeriksaan Fisik
Pertama-tama, dokter akan mendengarkan keluhan yang dialami pasien dan memeriksa fisik pasien secara langsung. Misalnya, apakah bagian perut pasien terlihat menonjol atau sakit jika ditekan.
- Endoskopi
Dokter akan memasukkan kamera kecil melalui mulut (endoskop) untuk melihat bagian dalam kerongkongan dan lambung. Di dalam layar nanti terlihat, apakah ada atau tidaknya hernia.
- Foto Rontgen Barium Swallow
Pasien akan diminta untuk menelan cairan barium yang akan terlihat pada sinar X. Gunanya untuk melihat struktur kerongkongan dan lambung, apakah ada bagian yang masuk ke dalam diafragma atau tidak.
- Tes pH Kerongkongan
Tes ini juga bisa dilakukan apabila pasien merasakan gejala dada panas karena asam lambung naik. Tes pH dapat memonitor kadar asam yang naik ke kerongkongan yang berkaitan dengan Hiatal Hernia.
Cara Mengatasi Hiatal Hernia
Hiatal Hernia biasanya bisa pulih dengan mengubah pola hidup mereka. Tapi, ada pula beberapa kasus yang membutuhkan pengobatan, atau bahkan operasi. Berikut beberapa cara mengatasinya:
- Ubah Pola Makan
Hiatal Hernia berkaitan erat dengan lambung, oleh karenanya usahakan untuk makan teratur agar tidak memicu asam lambung naik. Contohnya, dengan makan porsi kecil tapi sering, hindari makan pedas, asam, berlemak, kafein, dan lainnya.
Baca Juga: Mengatur Pola Makan yang Sehat dengan Defisit Kalori
- Atur Posisi Tidur
Gejala hernia dapat dikontrol dengan menjaga posisi tidur lebih tinggi. Hal ini dilakukan agar asam lambung tidak mudah naik saat tidur. Soalnya, gejala dada panas dan nyeri pada hernia seringkali disebabkan oleh naiknya asam.
- Menjaga Berat Badan Ideal
Pada orang obesitas, usahakan untuk mendapatkan berat badan ideal. Hal ini bertujuan untuk menurunkan tekanan pada perut yang mendorong bagian atas lambung naik hingga ke rongga dada.
- Pemberian Obat Lambung
Untuk gejala yang sudah sangat mengganggu, biasanya dokter akan memberikan obat lambung, seperti antasida dan PPI (proton pump inhibitors) untuk mengurangi produksi asam lambung dan gejala heartburn.
- Operasi
Tindakan ini biasanya dilakukan kalau gejalanya sudah tidak terkendali dengan obat dan perubahan gaya hidup. Operasi ini bertujuan untuk mengembalikan posisi lambung dan memperbaiki lubang diafragma agar tidak longgar.
Kesimpulan
Hiatal Hernia memang seringkali tidak menimbulkan gejala, tapi jika dibiarkan dapat menyebabkan kenaikan asam lambung yang mengganggu. Perubahan gaya hidup sehat sangat penting untuk mengatasi gejala hernia ini, terutama jika kamu tidak ingin bergantung pada obat-obatan atau bahkan harus melewati tindakan operasi. Jangan ragu untuk konsultasikan ke dokter, jika keluhan sudah sangat mengganggu.
